Ada Apa Di Balik Terapi Pijat

Additional Image

Waktu Posting : 12-06-2014 12:34 | Dibaca : 2723x

Pijat umumnya jadi pelarian untuk beberapa orang untuk terasa rileks serta menyingkirkan kemelut yang ada di otot-otot. Orang jadi yakin dengan manfaat pijat lantaran sensasi nyaman yang disiapkan oleh praktik pijat. Tetapi, cuma sedikit orang yang betul-betul mengetahui serta tahu apa serta bagaimana semestinya terapi pijat bisa bermanfaat.

Pijat sendiri adalah aksi meraba serta menghimpit jaringan lunak pada badan, seperti otot-otot. Pijatan memanglah memiliki manfaat melegakan kemelut serta rasa pegal yang dihadapi badan hingga menolong menambah kelancaran aliran darah serta berikan rasa enjoy pada badan. Pijat juga berperan untuk menolong kembalikan gerakan sendi-sendi seperti awal mulanya.
 
Baca juga : Cara Tepat Merawat Gigi Berkarat

Seseorang pemijat pakar umumnya memakai tak cuma tangan, tetapi juga lengan depan, siku, sampai kaki untuk membuat desakan pada bagian-bagian badan yang butuh dipijat. Ada seputar 80 tipe pijat yang tidak sama, bermacam dimulai dari yang lembut sampai yang benar-benar keras serta aktif.

Gerakan pijat yang keras ataupun lembut tergantung pada jaringan badan yang butuh dilepaskan dari kemelut. Pada jaringan badan yang terdapat agak jauh ke dalam, diperlukan gerakan yang lebih keras serta penuh desakan untuk mengobati kemelut otot yang umumnya telah lama berlangsung. Biasanya, terapis pijat bakal memakai gerakan dengan jari-jari, jempol, serta siku dengan desakan yang lebih dalam untuk mencapai susunan otot yang terdapat lebih dalam.
 
Baca juga : Olahraga yang Cocok dengan Usia Anda

Tipe pijat lain yang lebih keras dari pada pijat dengan desakan dalam ialah pijat yang dikerjakan pada lokasi-lokasi badan yang barangkali alami cedera atau terkilir. Pemijatan pada keadaan sejenis ini bakal dikerjakan sampai otot jadi rileks. Bila alami rasa sakit sepanjang sistem pemijatan, beritahukan rasa sakit pada orang yang memijat serta janganlah memaksakan diri.

Pijat tak senantiasa bermakna Anda butuh memakai layanan terapis di panti pijat ataupun memanggil orang ke rumah. Pijat juga barangkali sekali dikerjakan sendiri. Pijat bisa dikerjakan sendiri untuk menangani rasa pegal serta capek dan untuk memulihkan daya saat pagi hari. Pijat yang dikerjakan sendiri bisa dikerjakan pada kaki, tangan, serta leher. Gunakan baju yang nyaman serta atur posisi badan pada posisi yang nyaman. Gunakan juga losion atau minyak pada kulit.

BACA JUGA TIPS KESEHATAN INI

Featured Image
Cara Mengatasi Inkontenesia Urine dan Jenisnya

12-09-2022 11:58

  Inkontinensia urine adalah  suatu kondisi yang sering dialami oleh para geriatri (lansia). Penuaan merupakan proses yang tidak dapat dihindari. Menjaga kesehatan tubuh merupakan hal yang harus kita perhatikan sedini mungkin, sebelum mencapai umur lanjut yang cenderung lebih rentan terhadap penyakit, seperti terkena penyakit inkontinensia urine.   Inkontinensia Urine Inkontinensia urine merupakan kondisi ketidakmampuan seseorang dalam menampung banyak urine. Urine dapat keluar melalui saluran kemih tanpa dikendalikan secara sadar atau justru mengalami kesulitan saat mengeluarkan urine. Banyak lansia menganggap bahwa inkontinensia urine merupakan bagian dari proses penuaan alami, sehingga sebagian besar dari mereka tidak mengunjungi rumah sakit. Sesungguhnya, terdapat beberapa kondisi dimana inkontinensia urine bukan disebabkan oleh proses penuaan, yakni disebabkan oleh penyakit tertentu. Obesitas, diabetes, infeksi, maupun kelainan mental tertentu dapat menyebabkan terjadinya gangguan tersebut. Diperlukan pemeriksaan ke dokter untuk mengetahui dengan pasti penyebab dari terjadinya inkontinensia urine. Berikut ini adalah 4 jenis inkontinensia urine yang umum ditemukan yaitu : 1. Stress Incontinence – Mengompol ketika sudah penuh Kandung kemih berfungsi untuk menampung urine hingga penuh. Penderita stress incontinencre memiliki otot pengatur proses berkemih yang lemah. Sehingga ketika sudah terisi penuh dan memberikan tekanan pada otot tersebut, urine dapat keluar. Proses ini dapat terjadi saat batuk, bersin, tertawa, maupun mengangkat beban berat. Kelainan ini dapat disebabkan oleh penuaan, kehamila, dan operasi. 2. Urge Incontinence – Ingin berkemih secara berkala Sering memiliki keinginan untuk bekemih secara tiba-tba dan terjadi pada interval yang singkat (kurang dari 30 menit). Kandung kemih belum terisi penuh, namun penderita urge incontinence ingin segera ke toilet. Hal ini terjadi karena adanya kontraksi dinding pembuluh darah yang tidak teratur sehingga menekan urine yang ditampung. Kemudian penderita merasakan keinginan untuk berkemih secara tibat-tiba dan mengeluarkan volume urine yang sedikit. Kelainan ini dapat disebabkan oleh infeksi, ketidakstabilan otot dinding pembuluh darah, dan tumor. 3. Overflow Incontinence – Mengeluarkan urine sedikit dan tiba-tiba Penderita overflow incontinence justru memiliki hambatan dalam mengeluarkan urine. Urine pada kandung kemih akan menumpuk dan hanya dapat keluar saat tekenannya sangat tinggi. Urine yang dapat keluar pun hanya sedikit, namun terjadi secara tiba-tiba. Jenis ini lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Kelainan ini dapat disebabkan oleh batu kandung kemih, perbesaran prostat, tumor, atau kerusakan saraf. 4. Mixed incontinence – Lebih dari satu jenis inkontinensia urine Penderita mengalami lebih dari satu jenis inkontinensia urin, seperti adanya stress incontinence dan urge incontinence secara bersamaan. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai jenis faktor, salah satunya penderita mengalami kandung kemih yang overaktif ditambah dengan adanya kelainan saat penutupan saluran kandung kemih. Penyebab Inkontinensia Urine  di antaranya adalah : ·         Usia (kelemahan otot dasar panggul) ·         Kehamilan dan persalinan ·         Kegemukan (obesitas) ·         Hormon, Menopause ·         Diabetes Melitus (DM), Stroke ·         Operasi pengangkatan rahim ·         Infeksi saluran kemih (ISK) ·         Penyakit paru-paru / Batuk kronik Tidak selalu mudah untuk mencegah inkontinensia urine, namun ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya inkontinensia. Inilah pola hidup sehat yang harus dijalankan:   Dapatkan Berat Badan yang Sehat     Obesitas bisa meningkatkan risiko inkontinensia urine. Kamu bisa menurunkan risikonya dengan menjaga berat badan yang sehat melalui olahraga teratur dan makan sehat. Gunakan kalkulator berat badan sehat untuk melihat apakah berat badan sesuai dengan tinggi badan kamu.   Perhatikan Kebiasaan Minum        Tergantung pada masalah kandung kemih yang kamu alami, dokter biasanya memberikan saran tentang jumlah cairan yang harus diminum. Jika kamu mengalami inkontinensia urine, kurangi alkohol dan minuman yang mengandung kafein, seperti teh, kopi, dan minuman bersoda. Minuman ini bisa menyebabkan ginjal menghasilkan lebih banyak urine dan mengiritasi kandung kemih.   Jika kamu harus sering buang air kecil di malam hari (nokturia), cobalah minum lebih sedikit pada jam-jam sebelum tidur. Namun, pastikan tetap cukup minum di siang hari.  Setiap orang disarankan minum 6 hingga 8 gelas cairan sehari (tidak lebih), kecuali jika dokter menyarankan lebih. Banyak orang dengan inkontinensia urine menghindari minum cairan, karena mereka merasa hal itu menyebabkan masalah. Namun, membatasi asupan cairan membuat inkontinensia urine menjadi lebih buruk, karena mengurangi kapasitas kandung kemih.   Rutin Latihan Dasar Panggul     Hamil dan melahirkan bisa melemahkan otot-otot yang mengontrol aliran urine dari kandung kemih. Jika kamu hamil, memperkuat otot dasar panggul bisa mencegah inkontinensia urine.     Berhenti Merokok     Jika kamu merokok, maka risiko inkontinensia urine lebih tinggi. Hal ini karena batuk membuat otot dasar panggul jadi tegang. Jadi, menghentikan kebiasaan merokok dapat menjadi cara mencegah inkontinensia urine.   Lakukan Olahraga yang Tepat    Olahraga sit-up berdampak tinggi memberikan tekanan pada otot dasar panggul dan bisa meningkatkan kebocoran urine. Untuk memperkuat dasar panggul dan meredakan gejala, gantilah olahraga berdampak tinggi, seperti jogging dan aerobik, dengan latihan kekuatan seperti pilates. Olahraga pilates juga mampu memperkuat otot inti, yang bermanfaat untuk mencegah inkontinensia urine.   Hindari Mengangkat Beban     Mengangkat beban membuat otot dasar panggul tegang, jadi hindari kapanpun kamu bisa. Saat memang harus mengangkat sesuatu, seperti menggendong anak atau membawa tas belanjaan, kencangkan otot dasar panggul sebelum dan selama mengangkat.   Konsumsi Makanan yang Tepat     Hindari makanan pedas dan asam, seperti kari dan buah jeruk, karena dapat mengiritasi kandung kemih dan memperburuk kebocoran dan gejala inkontinensia lainnya.     Itulah yang perlu kamu ketahui mengenai pola hidup sehat yang bisa mencegah inkontinensia urine. Jika kamu mengalami inkontinensia urine yang tidak bisa ditangani sendiri, segera bicarakan pada dokter.  

Featured Image
Kanker Serviks, Gejala, Penyebab Dan Penanganannya

07-09-2014 23:46

Kanker serviks, atau yang dikenal juga dengan kanker mulut atau leher rahim, adalah jenis kanker yang paling umum terjadi pada wanita di dunia, termasuk di Indonesia. WHO pun mencatat bahwa kanker serviks merupakan jenis kanker penyebab kematian teratas pada wanita. Kanker serviks terjadi ketika sel-sel abnormal pada leher rahim tumbuh dan menyebar tanpa terkontrol. Serviks adalah bagian bawah rahim (leher rahim) yang membuka dan terhubung ke kemaluan wanita. Penyebab Kanker Serviks Umumnya–lebih dari 99,5%–kanker serviks disebabkan oleh human papilloma virus atau HPV. Virus ini sangat mudah menyebar, baik melalui sentuhan, perpindahan cairan, atau menyentuh tempat yang telah terjangkit dengan virus ini. Namun yang paling umum adalah ketika seorang wanita melakukan hubungan seksual dengan orang yang memiliki virus HPV. Ada banyak jenis virus HPV, dan tidak semuanya menyebabkan kanker serviks. Kebanyakan orang dewasa telah atau pernah terinfeksi virus HPV, namun infeksi virus ini bisa hilang dengan sendirinya. Tetapi terkadang infeksi virus ini bisa menyebabkan kutil pada daerah kelamin atau menyebabkan terjadinya ke kanker serviks.   Baca juga : Kantung Mata, Penyebab dan Cara Mengatasinya Human papilloma virus (HPV) 16 dan 18 merupakan penyebab utama pada 70% kasus kanker serviks di dunia. Perjalanan dari infeksi HPV hingga menjadi kanker serviks memakan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 10 hingga 20 tahun. Namun proses penginfeksian ini sering tidak disadari oleh para penderita, karena proses HPV kemudian menjadi pra-kanker umumnya tidak menunjukkan gejala apapun. Itulah mengapa sangat penting bagi wanita melakukan tes PAP smear secara reguler untuk mendeteksi ketidaknormalan pada leher rahim sebelum mereka berubah menjadi kanker. Pada tes ini berlangsung, dokter akan mengorek sampel kecil dari sel-sel di permukaan leher rahim untuk melihat perubahan sel. Jika tes PAP menunjukkan perubahan yang abnormal, dokter akan melakukan tes lanjutan untuk mengetahui apakah perubahan tersebut berupa kanker atau dapat menyebabkan kanker di leher rahim. Gejala Kanker Serviks Perubahan abnormal pada sel serviks jarang menimbulkan gejala. Jika perubahan tersebut berkembang menjadi kanker, gejala yang timbul bisa berupa: Pendarahan tak normal pada vagina, misalnya di antara periode menstruasi, setelah berhubungan intim, atau setelah menopause. Merasa sakit ketika berhubungan intim atau ketika buang air kecil. Nyeri di perut bagian bawah atau panggul. Keputihan yang tidak normal, misalnya berlebih atau bercampur darah. Perubahan signifikan yang tak dapat dijelaskan pada siklus menstruasi. Pada tahapan yang lebih lanjut, gejala yang mungkin timbul antara lain: Anemia karena pendarahan berlebih pada kemaluan. Sakit berkelanjutan pada panggul, punggung dan juga kaki. Masalah urinasi/buang air kecil. Berat badan turun drastis.  Baca juga : 10 Kebiasaan Yang Bisa Turunkan Berat Badan Melakukan screening dan tes sejak dini sangat berperan untuk mencegah kanker serviks. Di negara berkembang, penggunaan secara luas program pengamatan leher rahim mengurangi kasus kanker serviks yang invasif, yaitu sebesar 50% atau lebih. Penanganan Kanker Serviks Perawatan dan penanganan kanker serviks meliputi operasi pada kanker serviks stadium awal, dan kemoterapi serta radioterapi pada stadium yang lebih lanjut. Tergantung pada seberapa jauh kanker telah berkembang, penderita mungkin akan satu atau lebih penanganan (kombinasi). Jika dilakukan hysterectomy (operasi pengangkatan rahim) pada penderita, maka penderita tak bisa lagi memiliki anak. Namun hysterectomy tidak selalu dibutuhkan, khususnya jika kanker ditemukan masih pada tahap sangat awal.

Featured Image
Kenali Gejala Usus Buntu Sejak Awal

23-06-2014 13:55

Apendisitis atau yang umum di kenal dengan usus buntu adalah satu diantara penyakit yang membutuhkan operasi atau pembedahan selaku langkah penyembuhannya. Rasa sakit yang terkadang hilang bikin orang kerap menyepelekan penyakit ini, namun rasa sakit yang menyerang bakal bikin orang yang merasakannya mengalami kesakitan yang amat merepotkan. Maka, sebaiknya mengenali gejalanya sebelum saat datang rasa sakit yang mengganggu. Apa pemicu serta tanda-tanda dari usus buntu ini? Pasien dinyatakan usus buntu jika berlangsung penyumbatan keseluruhan di bagian lumen apendix. Hal umum yang kerap didapati penyumbatnya ialah biji-bijian seperti biji jambu, tomat atau cabai. Tanda-tanda Usus Buntu Jika Anda kerap alami sakit pada perut, coba periksa apakah sakit perut Anda sama juga dengan tanda-tanda usus buntu di bawah ini : Rasa sakit di bagian pusar serta ulu hati yang terkadang datang serta terkadang hilang. Setelah itu bakal rasakan sakit di bagian abdomen segi kanan berbagai jam sesudah tanda-tanda pertama. Rasa sakit dengan intesitas yang kuat serta juga dibarengi dengan demam pada penderitanya. Suhu tubuh dapat meraih 39 derajat Celcius serta menetap. Rasa sakit di bagian perut pula dibarengi rasa mual serta kembung. Rasa mual pula dapat mengakibatkan pasien muntah jika lambung terisi makanan.   Baca juga : Pijat yang Tepat, Badan Sehat dan Segar Periksa Usus Buntu Untuk meyakinkan apakah beberapa gejala itu adalah indikasi usus buntu, pihak medis umumnya meakukan kontrol penunjang untuk meyakinkan diagnosanya. Kontrol penunjang yang umum dikerjakan ialah dengan USG di bagian abdomen, kontrol photo radiologic, serta kontrol laboratorium serta urine. Pada kontrol urine, penelusuran dikerjakan dengan memperhatikan apakah jumlah leukosit atau eritrosit pada apendiks melebihi batasan normal atau tak. Keunggulan jumlah eristrosit serta leukosit dapat mengindikasikan ada peradangan pada apendiks. Operasi Usus Buntu Pada masalah usus buntu, penyembuhannya dikerjakan dengan jalan operasi. Ada dua jalan operasi usus buntu yang bisa dikerjakan. Pertama, dikatakan dengan Apendiktomi Konvensional serta yang ke-2 dengan jalan Apendiktomi Laparoskopik. Apendiktomi Kovensional dapat dikerjakan pada pasien dengan berat tubuh normal. Sedang jika pasien mempunyai berat tubuh berlebihan atau obesitas, maka pembedahan dikerjakan dengan Apendiktomi Laparoskopik. Proses pembedahan tak dapat dikerjakan dengan cara segera, lantaran ada prasyarat keadaan tubuh pasien sudah membaik. Prasyarat keadaan pasien sebelum saat dikerjakan pembedahan ialah suhu tubuh pasien tak bisa kian lebih 38 derajat Celcius, pembuangan urine normal yakni 1-2 ml/kg tiap-tiap jam serta denyut nadi di bawah 120 kali/menit.   Baca juga : Jagalah Hati Anda dari Hepatitis Usus Buntu pada Anak Usus buntu dapat juga menimpa anak-anak juga bayi. Pada anak serta bayi diagnosa awal susah dikerjakan, kecuali itu bila menimpa pada anak-anak, resikonya jadi semakin besar lantaran semakin muda umur pasien, semakin kemungkinan besar terjadinya komplikasi pada robekan pembedahan. Maka, bakal amat baik mencegah penyakit ini menimpa anak Anda. Dengan tahu tanda-tanda usus buntu dari awal, Anda bakal lebih gampang bertindak secepatnya supaya penyakit usus buntu itu tak berlarut-larut.

...