Waktu Posting : 23-05-2014 00:53 | Dibaca : 3070x
11-05-2014 13:27
Bertengkar dan khawatir atas masalah keluarga dapat menyebabkan peningkatan resiko kematian di usia paruh baya. Konflik dengan keluarga, teman dan tetangga menimbulkan resiko terbesar. Mereka yang paling beresiko adalah laki-laki dan orang-orang keluar dari pekerjaan, para peneliti mencatat. “Stress dalam hubungan sosial yang ada hubungannya dengan kehidupan pribadi memiliki 2 sampai 3x peningkatan resiko kematian, " kata pemimpin peneliti Dr Rikke Lund, seorang profesor di departemen kesehatan masyarakat di University of Copenhagen. "Kekhawatiran dan tuntutan dari pasangan dan anak-anak dan konflik pada umumnya , tampaknya faktor risiko yang paling penting, " katanya. Temuan masih dipegang ketika kekhawatiran atau keluhan tentang penyakit kronis, gejala depresi, umur, jenis kelamin, status perkawinan, dukungan dari hubungan sosial, dan posisi sosial dan ekonomi, kata Lund. Baca juga : Umur 40 Apakah Tidak Terlalu Tua Untuk Olahraga Rutin? "Kami juga menemukan bahwa laki-laki dan peserta luar usia kerja sangat rentan terhadap paparan stres dari hubungan sosial, " katanya . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan sosial sebenarnya lebih mirip sebuah pedang bermata dua, karena mereka juga dapat merusak ketika tidak berjalan dengan lancar. Untuk penelitian ini , Lund dan rekan mengumpulkan data pada hampir 10.000 pria dan wanita , berusia 36-52. Peserta ditanya tentang hubungan sosial mereka sehari-hari, terutama tentang siapa, hubungan di antara pasangan, anak-anak, kerabat lain, teman dan tetangga, membuat tuntutan berlebihan, mendorong kekhawatiran atau yang menjadi sumber konflik, dan seberapa sering masalah ini muncul. Mereka juga meneliti apakah memiliki pekerjaan membuat perbedaan . Menggunakan data dari Denmark Penyebab Kematian Registry, peneliti melacak peserta dari tahun 2000 sampai akhir 2011. Selama waktu itu, 196 perempuan ( 4 persen ) dan 226 orang ( 6 persen ) meninggal. Hampir separuh kematian berasal dari kanker, penyakit jantung dan stroke, penyakit hati , kecelakaan dan bunuh diri menyumbang sisanya. Sekitar 1 dari 10 mengatakan bahwa anak-anak mereka adalah sumber keluhan dan kekhawatiran. 9 persen mengatakan bahwa pasangan mereka sering menjadi sumber keluhan atau kekhawatiran . Enam persen tentang masalah antara saudara mereka dan 2 persen memiliki masalah dengan teman-teman. Baca juga : Tips Untuk Mendapatkan Keefektifan Dari Obat Herbal Beberapa 6 persen dari peserta mengatakan mereka sering memiliki konflik dengan pasangan atau anak-anak mereka , 2 persen mengalami konflik tersebut dengan kerabat lainnya, dan 1 persen dengan teman atau tetangga. Kesimpulan dari semua ini, tim Lund menghitung bahwa tekanan tersebut dikaitkan dengan risiko 50 persen menjadi 100 persen peningkatan kematian dari setiap penyebab . Di antara semua tekanan ini, berkeluh kesah adalah yang paling berbahaya. Sering bertengkar dengan pasangan, saudara, teman atau tetangga bisa meningkatkan dua kali lipat sampai tiga kali lipat dalam resiko kematian dari setiap penyebab, dibandingkan dengan mereka yang mengatakan kejadian ini jarang. Namun, para peneliti menduga bahwa stres yang lebih besar dari konflik dan masalah yang mungkin menjadi alasan di balik peningkatan resiko . Mereka mencatat bahwa ketika stress meningkat, misalnya, konflik di rumah ditambah dengan pengangguran - risiko kematian mendadak juga meningkat. Hormon stress yang meninggi dan peningkatan tekanan darah mungkin alasan terjadinya kematian mendadak. Interaksi antara stress dan respon stress tubuh serta faktor-faktor lain seperti keturunan, lingkungan, faktor sosial ekonomi dan respon psikologis - mungkin semuanya memainkan peran dalam hubungan antara konflik dan resiko kematian yang lebih tinggi . Keterampilan dalam menangani kekhawatiran dan tuntutan dari hubungan sosial serta manajemen konflik dalam pasangan dan keluarga , dan juga dalam masyarakat lokal, dapat dianggap strategi penting untuk mengurangi kematian dini.
30-06-2024 00:19
Penyakit jantung menjadi salah satu momok menakutkan bagi banyak orang. Perlu diingat, penyakit ini tak hanya menyerang lanjut usia saja, namun anak muda juga berpotensi terserang penyakit jantung. Masih banyak anak muda yang menganggap remeh soal penyakit jantung. Terlebih, ada beberapa gejala dari penyakit ini yang disepelekan. Padahal, ciri-ciri penyakit jantung dapat muncul bahkan dari usia muda, lho. Apabila tidak terdeteksi dan segera mendapat tindakan, gejala tersebut bisa bertambah parah. Oleh sebab itu, dianjurkan untuk rutin berolahraga dan menjaga pola makan. Selain hidup lebih sehat, cara ini turut meminimalisir terserang penyakit jantung di usia muda. Lantas, apa saja ciri-ciri penyakit jantung di usia muda? Simak pembahasannya dalam artikel ini. Meski baru menginjak usia muda, bukan berarti detikers tak dapat terserang penyakit jantung. Gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, minum-minuman alkohol, kurang tidur, dan ditambah jarang olahraga bisa membuatmu rentan terkena penyakit jantung. https://pafitarempakota.org/ Untuk lebih jelasnya, berikut sejumlah ciri-ciri penyakit jantung di usia muda : 1. Mengalami Nyeri Dada Ciri yang pertama adalah kerap mengalami nyeri dada. Hal ini bisa disebabkan oleh penyumbatan pada pembuluh arteri. Biasanya, rasa nyeri di dada akan berlangsung selama beberapa menit. Nyeri dada bisa terjadi kapan saja, baik saat beraktivitas maupun sedang istirahat. 2. Mudah Lelah Apakah detikers gampang lelah setelah melakukan aktivitas ringan hingga sedang? Jika iya, hal ini harus diwaspadai karena bisa menjadi ciri-ciri penyakit jantung di usia muda. Rasa lelah dapat disebabkan oleh berkurangnya pasokan oksigen dan darah ke otak serta otot. Jantung tidak bisa memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan jaringan tubuh. Alhasil, darah yang seharusnya dialirkan ke organ seperti otot-otot pada tangan atau kaki malah dialirkan ke jantung dan otak. Selain itu, rasa lelah yang muncul ketika bangun di pagi hari juga bisa menjadi indikasi masalah pada jantung. Apabila hal itu terjadi selama beberapa hari, sebaiknya segera pergi ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan. 3. Tidur Mendengkur Banyak orang yang tidur sampai mendengkur atau ngorok. Namun, jika suara mendengkur begitu keras dan terdengar seperti terengah-engah, itu bisa menjadi pertanda Obstructive Sleep Apnea (OSA). OSA merupakan kondisi ketika dengkuran mengakibatkan terputusnya napas saat tidur. Kondisi itu dapat menurunkan kadar oksigen dalam darah dan menimbulkan tumpukan karbon dioksida. Nah, OSA juga membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah yang nantinya dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. 4. Muncul Rasa Sakit di Tubuh Bagian Kiri Dalam beberapa kasus, seseorang mengalami rasa sakit atau nyeri pada anggota tubuh bagian kiri. Rasa sakit itu umumnya muncul pertama kali di dada, lalu menyebar ke bagian luar dada seperti pundak atau lengan. Rasa nyeri tersebut dapat menjadi indikasi adanya penyumbatan pembuluh darah atau otot jantung yang melemah. Gejala yang satu ini perlu diwaspadai sebab dapat menjadi pertanda seseorang mengalami gagal jantung, penyakit jantung koroner, hingga perikarditis. 5. Sesak Napas Ciri-ciri berikutnya adalah mengalami sesak napas. Banyak orang yang mengira sesak napas adalah indikasi gangguan di sistem pernapasan. Padahal, dalam kondisi tertentu sesak napas bisa menandakan seseorang mengalami masalah pada jantungnya. Soalnya, penyakit jantung dapat membuat aliran darah dari jantung ke organ tubuh menjadi tidak lancar. Hal tersebut yang kemudian dapat menimbulkan sesak napas. Sesak napas umumnya muncul ketika sedang menjalani aktivitas. Namun, dalam beberapa kasus sesak napas bisa muncul saat tengah beristirahat atau berbaring. Kondisi tersebut umumnya merupakan indikasi gagal jantung. 6. Batuk Kronis Batuk yang terjadi secara terus menerus perlu jadi perhatian lebih. Soalnya, kondisi itu bisa menjadi salah satu gejala gagal jantung. Ketika terjadi gagal jantung, kontraksi jantung menjadi lebih lemah. Kondisi tersebut menyebabkan cairan masuk ke dalam paru-paru sehingga memicu tubuh untuk menghilangkan kelebihan cairan itu dengan cara batuk. Umumnya, batuk pada penyakit gagal jantung akan mengeluarkan dahak kental berwarna putih. Dalam sejumlah kasus, batuk juga disertai bercak darah. Ada sejumlah faktor yang menyebabkan seseorang di usia muda bisa terserang penyakit jantung. Mengutip laman Cardio Metabolic Institute, berikut sejumlah penyebabnya : 1. Kelebihan Berat Badan Kelebihan berat badan punya pengaruh besar terhadap risiko terkena serangan jantung. Meski begitu, seseorang yang mengalami berat badan berlebih juga memiliki masalah kesehatan lain, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, hingga kolesterol tinggi. 2. Tekanan Darah Tinggi Ada banyak kasus seseorang mengalami tekanan darah tinggi atau hipertensi di usia muda hingga dewasa. Kondisi tersebut dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular, yakni suatu penyakit yang disebabkan adanya gangguan pada jantung dan pembuluh darah. Hipertensi dapat disebabkan oleh sejumlah faktor, salah satunya merokok dan stres berat. Selain itu, jarang berolahraga juga dapat menyebabkan tekanan darah tinggi. 3. Merokok dan Vape Penyebab utama anak muda mengalami penyakit jantung karena kebiasaan merokok dan vaping. Menurut berbagai penelitian, seseorang yang merokok satu bungkus dalam sehari berisiko meningkatkan serangan jantung dua kali lipat dibandingkan dengan bukan perokok. Meskipun rokok memiliki kemungkinan lebih besar yang menyebabkan serangan jantung daripada vape, namun bukan berarti vape aman untuk dipakai. Rokok elektrik tersebut mengandung nikotin dan senyawa beracun yang mempercepat detak jantung serta meningkatkan tekanan darah. Sebuah studi yang dilakukan baru-baru ini mengungkapkan, vape membuat seseorang 34% lebih mungkin terkena serangan jantung dibandingkan dengan orang yang tidak vape. Itu dia enam ciri-ciri penyakit jantung yang menyerang usia muda. So, jaga kesehatan dari sekarang.
04-07-2025 16:42
Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) merupakan organisasi profesi apoteker di Indonesia yang memiliki peran penting dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan. PAFI (https://pafi.id/) memiliki berbagai program dan kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi apoteker, mengembangkan praktik kefarmasian yang inovatif, dan memperjuangkan hak-hak apoteker.Berikut adalah beberapa peran penting PAFI dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan:1. Meningkatkan Kompetensi ApotekerPAFI menyelenggarakan berbagai program pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi apoteker. Program-program ini meliputi :Seminar dan workshop: PAFI mengadakan seminar dan workshop tentang berbagai topik terkait kefarmasian, seperti obat-obatan baru, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam kefarmasian, dan pelayanan kefarmasian berbasis bukti. Pelatihan online: PAFI menyediakan berbagai pelatihan online yang dapat diakses oleh apoteker di seluruh Indonesia. Pelatihan-pelatihan ini meliputi pelatihan tentang penggunaan obat-obatan, pengelolaan penyakit kronis, dan konseling pasien. Sertifikasi: PAFI menerbitkan sertifikat kompetensi bagi apoteker yang telah mengikuti pelatihan dan memenuhi persyaratan tertentu. Sertifikat kompetensi ini dapat meningkatkan peluang apoteker untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.2. Mengembangkan Praktik Kefarmasian yang InovatifPAFI mendorong apoteker untuk menerapkan praktik kefarmasian yang inovatif dan berkelanjutan. Praktik kefarmasian yang inovatif ini dapat meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian dan memberikan manfaat bagi pasien. Contoh praktik kefarmasian yang inovatif antara lain:Pelayanan kefarmasian berbasis bukti: Apoteker menggunakan bukti ilmiah terbaru dalam memberikan pelayanan kefarmasian kepada pasien. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK): Apoteker menggunakan TIK untuk meningkatkan efisiensi pelayanan kefarmasian, seperti penggunaan resep elektronik dan sistem informasi obat. Pelayanan kefarmasian di komunitas: Apoteker memberikan pelayanan kefarmasian kepada masyarakat di komunitas, seperti edukasi obat dan skrining kesehatan.3. Memperjuangkan Hak-Hak ApotekerPAFI memperjuangkan hak-hak apoteker agar mereka dapat memberikan pelayanan kefarmasian yang optimal kepada pasien. Upaya-upaya yang dilakukan PAFI dalam memperjuangkan hak-hak apoteker antara lain:Advokasi: PAFI melakukan advokasi kepada pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk meningkatkan kesejahteraan apoteker dan meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian. Perlindungan hukum: PAFI memberikan perlindungan hukum kepada apoteker yang mengalami masalah dalam menjalankan profesinya. Negosiasi: PAFI melakukan negosiasi dengan pihak-pihak terkait, seperti industri farmasi dan asuransi kesehatan, untuk mendapatkan yang lebih baik bagi apoteker.KesimpulanPersatuan Ahli Farmasi Indonesia ( https://pafi.id/) memiliki peran penting dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan. PAFI terus berupaya untuk meningkatkan kompetensi apoteker, mengembangkan praktik kefarmasian yang inovatif, dan memperjuangkan hak-hak apoteker. Upaya-upaya PAFI ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pasien dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara keseluruhan.