Waktu Posting : 11-03-2016 21:37 | Dibaca : 2347x
28-05-2014 03:55
Gejala anemia atau kurang darah dapat dihadapi siapapun, baik dewasa ataupun anak-anak. Anemia mempunyai efek yang merugikan lantaran dapat turunkan produktivitas. Juga pada anak, anemia dapat mengganggu sistem tumbuh kembang. Anemia biasanya adalah keadaan waktu tubuh kekurangan zat besi hingga punya pengaruh pada manfaat hemoglobin (Hb) mengikat serta membawa oksigen ke semua tubuh. Maka seorang yang alami anemia umumnya lebih cepat capek, lesu, serta tak bergairah. Profesor dr Djajadiman Gatot, SpA, dari unit pekerjaan anemia defisiensi besi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyampaikan, anemia dapat dikarenakan oleh beberapa hal. " Juga ada keadaan-keadaan spesifik, seperti penyakit lain, yang mengakibatkan tubuh dapat alami anemia, " katanya dalam seminar media minggu lalu di Jakarta. Baca juga : Cara Menyembuhkan Penyakit Kanker Keadaan-keadaan itu, terang dia, diantaranya pendarahan dari luka yang mengakibatkan hilangnya sel darah merah hingga terjadi anemia. Djajadiman menuturkan, pendarahan tidak cuma keluar dari luka yang terlihat seperti luka luar, namun juga luka dalam seperti pendarahan pada usus atau organ yang lain. " Luka pada usus kerapkali tak disadari, walau sebenarnya itu juga bertindak pada terjadinya anemia. Persoalannya, luka pada usus terkadang tak menyebabkan warna merah pada feses, namun sesungguhnya sel darahnya telah hilang, " papar Konsultan Hematologi Onkologi dari Divisi Hematologi Onkologi Departemen Pengetahuan Kesehatan Anak FKUI-RSCM ini. Kecuali itu, anemia pada anak juga dikarenakan oleh kurangnya konsumsi bahan pembentuk sel darah merah seperti zat besi, asam folat, serta vitamin B12. Karenanya, Djajadiman merekomendasikan supaya anak senantiasa memperoleh konsumsi gizi yang baik manfaat mencukupi keperluan zat besinya. " Bila butuh, dapat ditambahkan suplementasi zat besi, " katanya. Baca juga : Inilah Herbal Penangkal Bau Mulut Anemia dapat juga disebabkan oleh kegagalan sumsum tulang menghasilkan sel darah merah. Produksi sel darah merah yang kurang, kata Djajadiman, umumnya dipicu oleh penyakit-penyakit spesifik yang butuh diselidiki selanjutnya. Djajadiman menyampaikan, anemia mempunyai efek yang serius pada anak. Terutama pada anak dibawah umur dua th., di waktu perkembangan otak mencapai periode emasnya, kekurangan zat besi bisa menyebabkan pada tak optimalnya manfaat otak serta mental. Sesaat itu, walau terus merugikan, anemia pada anak diatas umur dua th. semakin dapat ditolerir. Kuncinya, ungkap Djajadiman, yakni sesegera barangkali melakukan perbaikan situasi anemia. " Bila anemia dilewatkan terlampau lama, baik pada anak diatas umur 2 tahun. atau orang dewasa sekalipun, pasti bakal menyebabkan jelek pada kesehatan, " ujarnya.
22-01-2026 15:49
Pulau Sumatra kembali menjadi sorotan nasional setelah terungkap fakta mengkhawatirkan mengenai kondisi hutan di wilayah ini. Pada 18 Januari 2026, seorang tokoh nasional mengungkap bahwa hampir seluruh pembukaan hutan, sekitar 97 persen, dilakukan melalui mekanisme legal yang sah menurut izin pemerintah. Fenomena ini dikenal sebagai deforestasi legal tinggi, dan menjadi perhatian serius karena dampaknya tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam kesejahteraan masyarakat setempat.Fenomena deforestasi legal tinggi menunjukkan bahwa legalitas izin bukan jaminan keberlanjutan. Izin resmi memungkinkan perusahaan menebang dan memanfaatkan hutan secara masif, dengan sedikit atau tanpa pengawasan yang ketat. Akibatnya, praktik penebangan berlangsung secara berkelanjutan dan berpotensi merusak ekosistem secara sistemik. Dampak ekologis dari kegiatan ini tidak hanya lokal, tetapi bisa memengaruhi seluruh wilayah Sumatra.Akibat nyata dari deforestasi legal tinggi terlihat dari meningkatnya frekuensi bencana alam. Banjir bandang, tanah longsor, dan kerusakan lahan pertanian menjadi lebih sering terjadi karena hilangnya tutupan hutan yang seharusnya menahan air hujan. Ketika hujan lebat datang, tanah yang gundul tidak mampu menahan aliran air, sehingga bencana sulit dihindari. Ini menunjukkan bahwa legalitas izin tidak selalu menjamin perlindungan lingkungan.Tokoh nasional yang memaparkan data ini menekankan bahwa masyarakat lokal menjadi pihak yang paling terdampak. Kehilangan lahan, risiko terhadap mata pencaharian, dan ancaman bencana alam menjadi beban mereka, sementara perusahaan tetap beroperasi secara sah. Kondisi ini menimbulkan ketimpangan antara kepentingan ekonomi dan perlindungan lingkungan, sekaligus menunjukkan perlunya reformasi menyeluruh dalam sistem perizinan hutan.Menanggapi sorotan publik, pemerintah pada 20 Januari 2026 mengambil langkah tegas dengan mencabut izin 28 perusahaan yang terbukti menyebabkan kerusakan hutan. Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa pencabutan izin ini merupakan bagian dari upaya menata ulang tata kelola hutan dan mencegah bencana ekologis lebih lanjut. Sebagian besar perusahaan yang izinnya dicabut bergerak di sektor pemanfaatan hutan alam, hutan tanaman, dan perkebunan, dengan luas kawasan yang terkena dampak mencapai lebih dari satu juta hektare.Langkah pemerintah ini mendapat dukungan luas dari masyarakat, tokoh politik, dan organisasi lingkungan. Mereka menilai pencabutan izin sebagai bukti keseriusan pemerintah dalam menegakkan regulasi lingkungan. Namun, para pengamat menekankan bahwa pencabutan izin hanyalah langkah awal. Tanpa reformasi mendasar terhadap sistem perizinan, deforestasi legal tinggi tetap berisiko berlangsung. Transparansi data perizinan, audit independen terhadap aktivitas perusahaan, dan partisipasi masyarakat lokal menjadi hal penting untuk mencegah praktik eksploitasi hutan yang merusak.Kasus di Sumatra memperlihatkan bahwa deforestasi legal tinggi bukan sekadar masalah lingkungan. Dampaknya juga meluas ke bidang sosial dan ekonomi. Kualitas air menurun, keamanan pangan terganggu, dan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan ikut terpengaruh. Oleh karena itu, pengelolaan hutan tidak boleh hanya berorientasi pada keuntungan jangka pendek; keberlanjutan harus menjadi prioritas utama.Selain itu, bencana yang muncul akibat deforestasi legal tinggi menekankan perlunya pengawasan yang ketat. Audit independen, penguatan lembaga pengelola hutan, dan keterlibatan masyarakat lokal menjadi kunci agar praktik eksploitasi berlebihan bisa dikendalikan. Partisipasi masyarakat memungkinkan pemetaan risiko bencana yang lebih tepat, sekaligus membantu pemulihan lahan yang rusak.Para pengamat menegaskan bahwa kebijakan kehutanan Indonesia harus menitikberatkan pada keberlanjutan jangka panjang. Deforestasi legal tinggi hanya dapat dikendalikan jika ada transparansi, akuntabilitas, dan penegakan hukum yang konsisten. Langkah tegas seperti pencabutan izin memang penting, tetapi tanpa reformasi struktural, risiko kerusakan hutan tetap tinggi.Tantangan terbesar ke depan adalah menyeimbangkan pembangunan ekonomi dengan pelestarian lingkungan. Deforestasi legal tinggi tetap menjadi ancaman serius jika sistem perizinan tidak diperbaiki secara fundamental. Reformasi perizinan, pengawasan ketat, dan keterlibatan masyarakat menjadi strategi penting agar hutan Sumatra tetap lestari, sekaligus melindungi masyarakat dari risiko bencana ekologis.Kasus ini menjadi pengingat bahwa legalitas izin tidak selalu sejalan dengan keberlanjutan. Deforestasi legal tinggi menuntut tindakan proaktif dari pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat. Dengan kolaborasi ini, Sumatra dapat tetap produktif secara ekonomi sekaligus terjaga secara ekologis, menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
06-06-2014 15:18
Ingin gaya jadi tersiksa. Menurut beberapa pakar, beragam gaya berpakaian ini dapat lho buat penggunanya sengsara. Anda pasti tidak mau merasakannya. Karenanya, janganlah asal turut mode. Tetapkan gaya Anda sendiri yang bikin Anda nyaman seharian. * Celana ketat vs masalah pencernaan Baju ketat, umpamanya skinny jeans yang menghimpit area perut, dapat membuat persoalan, terlebih waktu si pemakai banyak makan. Selain itu baju yang menghimpit perut bisa menyebabkan berbaliknya asam lambung ke kerongkongan bawah serta terjadi rasa seperti terbakar. Menurut Dr. Kaufman, 37 % dari masalah reflux itu berlangsung pada golongan muda umur 20-30 tahunan. Baca juga : Hilangkan Lelah dan Stres Dengan Aroma Terapi Baju ketat, seperti korset, blus, atau ikat pinggang yang mengikat perut dapat juga menghadirkan dampak yang sama. Bila Anda menghadiri acara makan malam serta berdandan rapi dengan memakai korset dibalik gaun malam, disarankan untuk makan sedikit saja. Juga Sedikit saja mengambil menu berlemak untuk kurangi resiko refluks. Atau longgarkan baju yang menghimpit perut, sesudah makan. * Korset vs nyeri saraf Baju dalam untuk “menyulap” wujud badan jadi indah ini dirancang untuk menutupi perut yang kendur serta gendut, dan paha yang tidak ramping lagi. Baju yang ketat mengikat area perut bawah serta paha atas ini bisa mengakibatkan meralgia paresthetica. Ini ialah iritasi saraf dibagian depan serta luar area paha. Ciri-ciri iritasi ini diantaranya nyeri, rasa seperti terbakar, sensasi seperti kesemutan, serta benar-benar peka pada sentuhan di area paha. * Dasi ketat vs aliran Suatu studi yang dipublikasikan dalam jurnal Stroke Research and Treatment, pada 2011 mendapatkan bahwasanya pemakaian dasi dengan cara ketat bisa mengakibatkan pergantian reaksivitas pada serebrovaskular. Hal semacam ini terkait dengan kekuatan arteri di otak untuk melebar, serta mungkin semacam pemberi tanda stroke. Baca juga : Tips Agar Anak Mau Menyantap Beragam Makanan Sehat Beberapa penulis laporan studi itu menyampaikan teori bahwasanya pergantian reaksivitas tersebut tak cukup untuk merubah resiko stroke pada orang dewasa yang sehat, namun dapat jadi aspek resiko yang perlu diwaspadai pada orang dewasa yang telah mempunyai aspek-faktor resiko stroke yang lain. * Kain vs reaksi alergi Sebagian tipe bahan baju dapat mengakibatkan iritasi serta reaksi alergi. Wool umpamanya, dapat menyebabkan reaksi alergi pada beberapa orang spesifik, berbentuk dermatitis kontak. Dermatitis kontak ditandai munculnya ruam yang gatal, juga dapat nampak tonjolan serta jadi kritis. Orang yang mempunyai masalah alergi, kulitnya peka atau sempat terkena eksim, berisiko tinggi alami iritasi oleh bahan ini. * Bahan sintetis vs infeksi Pewarna baju dari zat kimia seringkali menyebabkan alergi berbentuk ruam di kulit. Warna biru serta jingga yang paling kerap menyebabkan alergi. Bahan elastis pada kaus kaki, celana dalam, serta bra dapat juga mengakibatkan ruam serta gatal-gatal. Bila Anda alami reaksi tersebut, disarankan senantiasa membersihkan baju baru sebelum saat mengenakannya. Bahan sintetis seperti nilon serta lycra dapat juga mengakibatkan persoalan. Ke-2 materi ini bikin keadaan terus lembab serta panas, hingga jamur pemicu infeksi gampang berkembang biak.