Waktu Posting : 06-06-2014 08:34 | Dibaca : 2564x
19-10-2025 14:48
Katarak adalah salah satu penyakit mata yang paling sering menyerang masyarakat, terutama kelompok usia lanjut. Penyakit ini ditandai dengan kekeruhan pada lensa mata yang secara perlahan menyebabkan penglihatan menjadi buram. Banyak orang menganggap katarak sebagai penyakit tua yang tidak bisa diobati, padahal faktanya katarak dapat disembuhkan secara efektif melalui operasi katarak.Katarak bukan hanya masalah kesehatan mata biasa. Jika dibiarkan tanpa pengobatan, katarak bisa menyebabkan kebutaan permanen. Namun, kabar baiknya, teknologi medis modern saat ini memungkinkan penderita katarak untuk mendapatkan penglihatan yang jernih kembali hanya dalam waktu singkat.Apa Itu Katarak?Katarak adalah kondisi ketika lensa mata yang normalnya bening berubah menjadi keruh. Lensa mata berfungsi memfokuskan cahaya ke retina, sehingga kita dapat melihat dengan jelas. Ketika lensa menjadi keruh, cahaya tidak dapat masuk secara optimal, membuat penglihatan menjadi kabur, seperti melihat melalui jendela berkabut.Penyebab katarak bisa beragam, tetapi faktor usia merupakan penyebab paling umum. Seiring bertambahnya usia, struktur protein pada lensa mata mengalami perubahan, sehingga lensa kehilangan kejernihannya. Selain faktor usia, paparan sinar ultraviolet berlebihan, diabetes, cedera mata, merokok, dan penggunaan obat-obatan tertentu dalam jangka panjang juga dapat mempercepat timbulnya katarak.Gejala Katarak yang Perlu DiwaspadaiKatarak biasanya berkembang secara perlahan, sehingga banyak orang tidak langsung menyadari bahwa penglihatannya mulai menurun. Beberapa gejala umum katarak antara lain :Penglihatan menjadi buram atau berkabut.Sensitif terhadap cahaya terang atau silau.Warna terlihat pudar atau kekuningan.Sering mengganti kacamata atau lensa kontak karena penglihatan terus berubah.Penglihatan ganda pada satu mata.Kesulitan melihat di malam hari.Jika Anda mengalami gejala-gejala di atas, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter spesialis mata. Semakin cepat katarak terdeteksi, semakin baik hasil pengobatannya.Faktor Risiko KatarakBeberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami katarak, antara lain:Usia lanjut (di atas 50 tahun)Paparan sinar matahari UV berlebihan tanpa pelindung mataMerokok dan konsumsi alkoholRiwayat diabetesPenyakit mata lainnya atau cedera mataRiwayat keluarga dengan katarakPenggunaan kortikosteroid jangka panjangPencegahan katarak tidak dapat sepenuhnya dilakukan, tetapi menghindari faktor risiko di atas dapat memperlambat proses kekeruhan lensa mata.Mengapa Operasi Katarak Menjadi Solusi EfektifSatu-satunya cara untuk menyembuhkan katarak adalah dengan operasi katarak. Obat tetes atau kacamata tidak dapat menghilangkan kekeruhan lensa mata. Operasi katarak adalah prosedur medis untuk mengangkat lensa mata yang keruh dan menggantinya dengan lensa buatan (IOL intraocular lens) yang jernih.Operasi katarak saat ini tergolong prosedur cepat, aman, dan minim rasa sakit. Dalam banyak kasus, pasien tidak perlu rawat inap dan dapat pulang pada hari yang sama. Prosedur operasi biasanya memakan waktu sekitar 1530 menit, tergantung kondisi pasien.Teknik operasi yang umum digunakan antara lain:Phacoemulsifikasi teknik modern dengan sayatan kecil. Lensa yang keruh dihancurkan menggunakan gelombang ultrasonik, lalu diangkat dan diganti dengan lensa buatan.ECCE (Extracapsular Cataract Extraction) teknik dengan sayatan lebih besar, biasanya untuk katarak stadium lanjut.Proses dan Tahapan Operasi KatarakPemeriksaan pra-operasi dokter akan melakukan tes ketajaman penglihatan, mengukur tekanan bola mata, dan menentukan jenis lensa buatan yang akan dipasang.Anestesi lokal area mata akan dibius ringan, sehingga pasien tidak merasa sakit selama operasi.Pengangkatan lensa keruh dokter membuat sayatan kecil, lalu mengangkat lensa yang mengalami katarak.Pemasangan lensa buatan lensa buatan dipasang untuk menggantikan fungsi lensa alami.Pemulihan setelah operasi katarak, pasien akan diberikan pelindung mata dan obat tetes untuk mencegah infeksi.Pemulihan Setelah Operasi KatarakPemulihan pasca operasi katarak biasanya berlangsung cepat. Banyak pasien melaporkan penglihatan membaik dalam 2448 jam setelah operasi. Namun, beberapa hal perlu diperhatikan:Hindari mengucek atau menekan mata.Gunakan obat tetes sesuai anjuran dokter.Kenakan pelindung mata saat tidur dalam beberapa hari pertama.Hindari aktivitas berat dan berenang selama masa pemulihan.Lakukan kontrol sesuai jadwal dokter.Dengan mengikuti petunjuk pasca operasi, kemungkinan keberhasilan operasi katarak sangat tinggi. Tingkat keberhasilan operasi katarak modern mencapai lebih dari 95%, dan komplikasi sangat jarang terjadi.Pencegahan dan Perawatan Mata Sehari-hariMeskipun katarak tidak selalu bisa dicegah sepenuhnya, ada beberapa langkah yang dapat membantu menjaga kesehatan mata:Gunakan kacamata hitam saat berada di bawah sinar matahari langsung.Konsumsi makanan kaya antioksidan, seperti wortel, bayam, brokoli, dan ikan berlemak.Hindari merokok dan konsumsi alkohol berlebihan.Kontrol kadar gula darah, terutama bagi penderita diabetes.Periksa mata secara rutin, terutama setelah usia 40 tahun.Dengan gaya hidup sehat dan pemeriksaan mata berkala, katarak dapat dideteksi lebih awal dan ditangani sebelum mengganggu kualitas hidup.Katarak adalah penyebab utama gangguan penglihatan di dunia, terutama pada orang berusia lanjut. Meski terdengar menakutkan, katarak bukanlah akhir dari penglihatan yang jernih. Operasi katarak terbukti menjadi solusi efektif untuk mengembalikan penglihatan dan kualitas hidup penderita. Prosedurnya cepat, aman, dan memiliki tingkat keberhasilan tinggi.Jadi, jika Anda atau orang terdekat mulai merasakan gejala katarak seperti penglihatan buram atau kesulitan melihat di malam hari, jangan tunda untuk konsultasi ke dokter spesialis mata. Semakin cepat katarak ditangani, semakin besar peluang untuk mendapatkan kembali penglihatan yang optimal.
12-09-2022 11:58
 Inkontinensia urine adalah  suatu kondisi yang sering dialami oleh para geriatri (lansia). Penuaan merupakan proses yang tidak dapat dihindari. Menjaga kesehatan tubuh merupakan hal yang harus kita perhatikan sedini mungkin, sebelum mencapai umur lanjut yang cenderung lebih rentan terhadap penyakit, seperti terkena penyakit inkontinensia urine.  Inkontinensia Urine Inkontinensia urine merupakan kondisi ketidakmampuan seseorang dalam menampung banyak urine. Urine dapat keluar melalui saluran kemih tanpa dikendalikan secara sadar atau justru mengalami kesulitan saat mengeluarkan urine. Banyak lansia menganggap bahwa inkontinensia urine merupakan bagian dari proses penuaan alami, sehingga sebagian besar dari mereka tidak mengunjungi rumah sakit. Sesungguhnya, terdapat beberapa kondisi dimana inkontinensia urine bukan disebabkan oleh proses penuaan, yakni disebabkan oleh penyakit tertentu. Obesitas, diabetes, infeksi, maupun kelainan mental tertentu dapat menyebabkan terjadinya gangguan tersebut. Diperlukan pemeriksaan ke dokter untuk mengetahui dengan pasti penyebab dari terjadinya inkontinensia urine. Berikut ini adalah 4 jenis inkontinensia urine yang umum ditemukan yaitu : 1. Stress Incontinence – Mengompol ketika sudah penuh Kandung kemih berfungsi untuk menampung urine hingga penuh. Penderita stress incontinencre memiliki otot pengatur proses berkemih yang lemah. Sehingga ketika sudah terisi penuh dan memberikan tekanan pada otot tersebut, urine dapat keluar. Proses ini dapat terjadi saat batuk, bersin, tertawa, maupun mengangkat beban berat. Kelainan ini dapat disebabkan oleh penuaan, kehamila, dan operasi. 2. Urge Incontinence – Ingin berkemih secara berkala Sering memiliki keinginan untuk bekemih secara tiba-tba dan terjadi pada interval yang singkat (kurang dari 30 menit). Kandung kemih belum terisi penuh, namun penderita urge incontinence ingin segera ke toilet. Hal ini terjadi karena adanya kontraksi dinding pembuluh darah yang tidak teratur sehingga menekan urine yang ditampung. Kemudian penderita merasakan keinginan untuk berkemih secara tibat-tiba dan mengeluarkan volume urine yang sedikit. Kelainan ini dapat disebabkan oleh infeksi, ketidakstabilan otot dinding pembuluh darah, dan tumor. 3. Overflow Incontinence – Mengeluarkan urine sedikit dan tiba-tiba Penderita overflow incontinence justru memiliki hambatan dalam mengeluarkan urine. Urine pada kandung kemih akan menumpuk dan hanya dapat keluar saat tekenannya sangat tinggi. Urine yang dapat keluar pun hanya sedikit, namun terjadi secara tiba-tiba. Jenis ini lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Kelainan ini dapat disebabkan oleh batu kandung kemih, perbesaran prostat, tumor, atau kerusakan saraf. 4. Mixed incontinence – Lebih dari satu jenis inkontinensia urine Penderita mengalami lebih dari satu jenis inkontinensia urin, seperti adanya stress incontinence dan urge incontinence secara bersamaan. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai jenis faktor, salah satunya penderita mengalami kandung kemih yang overaktif ditambah dengan adanya kelainan saat penutupan saluran kandung kemih. Penyebab Inkontinensia Urine  di antaranya adalah : ·         Usia (kelemahan otot dasar panggul) ·         Kehamilan dan persalinan ·         Kegemukan (obesitas) ·         Hormon, Menopause ·         Diabetes Melitus (DM), Stroke ·         Operasi pengangkatan rahim ·         Infeksi saluran kemih (ISK) ·         Penyakit paru-paru / Batuk kronik Tidak selalu mudah untuk mencegah inkontinensia urine, namun ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya inkontinensia. Inilah pola hidup sehat yang harus dijalankan:  Dapatkan Berat Badan yang Sehat   Obesitas bisa meningkatkan risiko inkontinensia urine. Kamu bisa menurunkan risikonya dengan menjaga berat badan yang sehat melalui olahraga teratur dan makan sehat. Gunakan kalkulator berat badan sehat untuk melihat apakah berat badan sesuai dengan tinggi badan kamu.  Perhatikan Kebiasaan Minum       Tergantung pada masalah kandung kemih yang kamu alami, dokter biasanya memberikan saran tentang jumlah cairan yang harus diminum. Jika kamu mengalami inkontinensia urine, kurangi alkohol dan minuman yang mengandung kafein, seperti teh, kopi, dan minuman bersoda. Minuman ini bisa menyebabkan ginjal menghasilkan lebih banyak urine dan mengiritasi kandung kemih.  Jika kamu harus sering buang air kecil di malam hari (nokturia), cobalah minum lebih sedikit pada jam-jam sebelum tidur. Namun, pastikan tetap cukup minum di siang hari.  Setiap orang disarankan minum 6 hingga 8 gelas cairan sehari (tidak lebih), kecuali jika dokter menyarankan lebih. Banyak orang dengan inkontinensia urine menghindari minum cairan, karena mereka merasa hal itu menyebabkan masalah. Namun, membatasi asupan cairan membuat inkontinensia urine menjadi lebih buruk, karena mengurangi kapasitas kandung kemih.  Rutin Latihan Dasar Panggul     Hamil dan melahirkan bisa melemahkan otot-otot yang mengontrol aliran urine dari kandung kemih. Jika kamu hamil, memperkuat otot dasar panggul bisa mencegah inkontinensia urine.   Berhenti Merokok     Jika kamu merokok, maka risiko inkontinensia urine lebih tinggi. Hal ini karena batuk membuat otot dasar panggul jadi tegang. Jadi, menghentikan kebiasaan merokok dapat menjadi cara mencegah inkontinensia urine.  Lakukan Olahraga yang Tepat   Olahraga sit-up berdampak tinggi memberikan tekanan pada otot dasar panggul dan bisa meningkatkan kebocoran urine. Untuk memperkuat dasar panggul dan meredakan gejala, gantilah olahraga berdampak tinggi, seperti jogging dan aerobik, dengan latihan kekuatan seperti pilates. Olahraga pilates juga mampu memperkuat otot inti, yang bermanfaat untuk mencegah inkontinensia urine.  Hindari Mengangkat Beban   Mengangkat beban membuat otot dasar panggul tegang, jadi hindari kapanpun kamu bisa. Saat memang harus mengangkat sesuatu, seperti menggendong anak atau membawa tas belanjaan, kencangkan otot dasar panggul sebelum dan selama mengangkat.  Konsumsi Makanan yang Tepat     Hindari makanan pedas dan asam, seperti kari dan buah jeruk, karena dapat mengiritasi kandung kemih dan memperburuk kebocoran dan gejala inkontinensia lainnya.   Itulah yang perlu kamu ketahui mengenai pola hidup sehat yang bisa mencegah inkontinensia urine. Jika kamu mengalami inkontinensia urine yang tidak bisa ditangani sendiri, segera bicarakan pada dokter. Â
17-09-2014 00:01
Banyak riset yang sudah memperlihatkan faedah kesehatan dari mengonsumsi ikan. Serta, pada kesempatan ini nampaknya daftar faedah itu bakal jadi tambah. Pasalnya, suatu studi besar yang beberapa waktu terakhir dikerjakan sudah membuktikan bahwa mengonsumsi ikan bisa menurunkan resiko masalah pendengaran pada wanita. Ikan serta pencegahan masalah pendengaran Kaum peneliti di Brigham and Women’s Hospital di Boston, Amerika Serikat, mendapatkan bahwa mengonsumsi sekurang-kurangnya dua hidangan ikan serta omega-3 (rantai panjang asam lemak tidak jemu ganda omega-3) tiap-tiap minggunya bisa menolong menghindar atau menghalangi terjadinya masalah pendengaran. Baca juga : Cara Membakar Lemak untuk Turunkan Berat Badan Gangguan pendengaran ialah keadaan yang umum berlangsung tetapi sering kali melumpuhkan. Meskipun penurunan pendengaran kerap dikira semacam segi yang tak terelakkan disebabkan penuaan, mengidentifikasi berbagai aspek resiko yang bisa beralih dengan cara mungkin sudah menyajikan wawasan baru pada kemungkinan pencegahan atau penundaan masalah pendengaran yang berlangsung. Riset yang diterbitkan dengan cara on-line pada tanggal 10 September 2014 lantas dalam American Journal of Clinical Nutrition ini melibatkan kian lebih 65. 000 wanita dari th. 1991 sampai 2009. Dari jumlah itu, di ketahui kian lebih 11. 600 wanita alami masalah pendengaran. Baca juga : Menyikat Gigi Sebelum Tidur, Pentingkah? Tetapi wanita-wanita yang makan dua jumlah ikan atau lebih tiap-tiap minggunya di ketahui mempunyai resiko 20 % lebih rendah untuk alami masalah pendengaran dibanding dengan mereka yang tidak sering konsumsi ikan, riset tunjukkan. Semakin khusus lagi, konsumsi semakin banyak konsumsi omega-3 yang umumnya diketemukan pada makanan laut dihubungkan dengan resiko yang lebih rendah untuk masalah pendengaran. Konsumsi ikan seperti tuna, ikan berwarna gelap, ikan berwarna jelas, kerang, serta sejenisnya condong dihubungkan dengan resiko masalah pendengaran yang lebih rendah. Temuan ini tunjukkan bahwa makanan mungkin saja pula mempunyai peran utama pada pencegahan masalah pendengaran yang berlangsung. Sesaat kaum peneliti temukan jalinan pada mengkonsumsi ikan yang semakin besar serta pencegahan masalah pendengaran, riset ini tak menunjukkan jalinan sebab-akibat dengan cara segera.