Waktu Posting : 05-10-2014 05:22 | Dibaca : 2797x
05-07-2014 21:33
Jerawat umumnya “tumbuh subur” waktu umur remaja atau mengalami saat puber. Lalu kenapa jerawat tetap “betah tinggal” waktu umur Anda telah melebihi kepala dua? Pemicu jerawat ialah muka berminyak, bakteri, pergantian hormon yang disebabkan kehamilan serta menstruasi, rutinitas merokok, serta aspek keturunan. Berbagai aspek pemicu munculnya jerawat dewasa ialah stres serta makanan seperti cokelat, gula, serta makanan berlemak. Baca juga : Cara Menjaga Kesehatan Mulut Selama Berpuasa Pada intinya, ada dua tipe jerawat pada orang dewasa. Yakni : 1. Komedo. Komedo terbentuk dibawah permukaan kulit waktu minyak (sebum) bereaksi dengan hawa di beberapa pori-pori muka yang terhalang. Waktu pori-pori terhalang semuanya, timbullah komedo. Komedo dapat diatasi dengan bersihkan muka 2 x satu hari memakai pembersih muka. Gunakan air hangat serta janganlah menggosok muka terlampau keras. Kecuali itu, batasi pemakaian make-up yang terlalu berlebih lantaran dapat menyumbat pori-pori. Apabila hendak berdandan, pastikan tipe make-up bebas minyak, memiliki kandungan tabir matahari (sunblock), dan tak menyebabkan munculnya jerawat ataupun komedo. 2. Jerawat meradang atau jerawat batu. Pada jerawat batu, folikel kulit terhalang amat dalam dibawah permukaan kulit. Jerawat ini memerlukan obat-obatan berbentuk pil antibiotik dan cream muka yang memiliki kandungan retinoids. Jauhi menggaruk, memencet, ataupun memecahkan jerawat batu lantaran cuma bakal memperburuk jerawat serta meninggalkan sisa luka. Baca juga : Waspadai Dehidrasi Ringan Ancam Produktivitas Satu diantara upaya menangani jerawat ialah meminum pil KB yang mampu mengontrol serta menolong memblokir hormon androgen. Hormon inilah yang menyebabkan produksi minyak jadi semakin banyak. Walau begitu, jerawat dapat kembali menghiasi muka waktu Anda berhenti konsumsi pil KB. Oleh karenanya, senantiasa rundingkan pemakaian pil KB pada dokter Anda. Supaya Anda dapat menghindari munculnya jerawat dewasa, jauhi rutinitas menyentuh muka yang bisa menaikkan minyak, merangsang kulit, serta menambah perkembangan bakteri. Lalu, jauhkan rambut berminyak dari kulit muka serta gunakan produk perawatan rambut yang bebas minyak. Kecuali itu, senantiasa perlakukan kulit muka dengan ekstra hati-hati. Umpamanya, gosok muka dengan ujung jari memakai pembersih muka yang tak kasar serta hindari pemakaian lap ataupun spons muka.
04-06-2014 17:10
Dalam buku Ten Minute Stress Relief, Erica Brealey berikan kiat rileksasi dalam yang bermanfaat untuk bikin badan serta pikiran rileks, tenang. Cara rileksasi ini menurut pada yoga dengan pose savasana. Mempunyai tujuan untuk bikin tenang pikiran serta badan lewat sistem melepas kemelut otot di tiap-tiap sisi badan. Rileksasi dengan langkah tersebut bakal menolong mengenyahkan kelelahan, meredakan stres, serta simtom berkenaan stres seperti sakit kepala, migren, serta insomnia. Baca juga : Kiat Mengatasi Stres di Kantor Di bawah ini adalah metode yang dikerjakan dalam rileksasi dalam. 1. Berbaring dengan posisi telentang. 2. Pejamkan mata serta konsentrasi pada napas Anda. Tarik napas dalam serta perlahan-lahan, kalkulasi sampai empat, lalu hembuskan empat hitungan. Kerjakan selalu sampai napas Anda jadi mudah serta rileks. 3. Lalu alihkan perhatian untuk melepas kemelut dengan secara sadar bikin rilek tiap-tiap sisi badan. Pertama, fokuskan perhatian pada kaki sepanjang sebagian waktu. Rileks sedalam barangkali lalu pindahkan kesadaran ke sisi betis serta ulangilah sistem itu. 4. Kerjakan selalu ke sisi atas badan dengan bikin rileks paha, pantat, pinggul, perut, punggung sisi bawah, dada, punggung sisi atas, tangan, lengan, lengan atas, bahu, tenggorokan, leher, serta kepala. Baca juga : Kiat Menghadapi Bila Didiagnos Mengidap Kanker 5. Beri perhatian spesial di bagian halus untuk bikin muka rileks. Rileks dagun serta mulut, bikin bibir rileks serta lidah beristirahat di 1/2 lebih bawah sisi mulut. Rileks pipi, mata, alis, dahi, serta pelipis. Rasakan kulit melembut waktu otot muka betul-betul rileks. Lalu rilekskan kulit kepala serta semua otot dibagian kepala. 6. Pindai semua badan dari ujung jari kaki ke ujung kepala. Bernapas ke kantung-kantung yang penuh kemelut. Bebaskan serta rileks waktu napas dihembuskan. 7. Saat ini Anda betul-betul rileks. Waktu semua beban badan beristirahat di lantai bikin Anda terasa terbenam ke dalamnya. 8. Lalu, kembali sadari napas serta terus dalam posisi ini sepanjang 5-10 menit. Benar-benar disarankan untuk mengawali rileksasi cepat dahulu yang lalu dilanjutkan rileksasi dalam.
23-02-2016 06:26
Saat ini masyarakat banyak dikejutkan dengan LGBT, banyak diantaranya yang belum tau dan mengerti dengan apa itu yang dimaksud oleh LGBT sendiri. Bahkan ada pula beberapa diantaranya yang bertanya apakah LGBT itu termasuk dalam jenis penyakit LGBT atau bukan? Untuk menjawab beberapa bentuk pertanyaan tersebut, sebaiknya Anda perhatikan terlebih dahulu uraian penjelasan di bagian bawah ini : Apa itu LGBT? LGBT atau sering pula disebut sebagai GLBT adalah singkatan dari kata Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Istilah ini sebenarnya sudah digunakan sejak tahun 1990 lalu, namun untuk perkembangannya memang baru dikenal oleh masyarakat dalam beberapa waktu terakhir ini. Penggunaan istilah LGBT pada mualnya digunakan untuk mengganti frasa dari Komunitas Gay. Hal ini juga berkaitan dengan penggunaan kata yang lebih mewakili dari kelompok-kelompok orang yang sudah disebutkan pada bagian di atas itu tadi. Baca juga : Waspadai Penyakit di Musim Hujan dengan Cara Pencegahannya Selain itu penggunaan istilah ini juga digunakan untuk menekan bentuk keanekaragaman yang dilihat melalui kacamata seksualitas serta gender. Bahkan peggunaan istilah tersebut juga tidak hanya digunakan untuk menyebutkan pihak homoseksual atau pun biseksual saja. Karena tidak jarang mereka yang heteroseksual pun dimasukkan dalam istilah yang satu ini. Karena itulah penggunaan istilah LGBT sering pula ditambahkan dengan penggunaan huruf Q yang berarti mewakili kata Queer. Sehingga istilah tersebut pun berubah menjadi LGBTQ atau GLBTQ. Penggunaan istilah ini bahkan tercatat sejak tahun 1996 lalu. Pada dasarnya tidak semua orang setuju dengan penggunaan istilah dari LGBT itu sendiri. Karena ada beberapa diantaranya pendapat yang menyatakan bahwa pergerakan transgender serta transeksual tidak sama dengan apa yang disebut sebagai Lesbian, Gay serta Biseksual. Hal ini berkaitan pula dengan gagasan dari penggunaan kata transgender serta transeksual yang memang berkaitan dengan identitas gender, namun justru terlepas dari bentuk orientasi seksual. LGBT Bukanlah penyakit atau pun kelainan Setelah membicarakan mengenai istilah LGBT yang pada dasarnya sudah dikenal sejak jaman dulu. Salah seorang pakar saraf yang bernama dr. Roslan Yusni Hasan, SpBS justru mengungkapkan pendapatnya terkait dengan LGBT tersebut. Menurut beliau LGBT bukanlah jenis penyakit atau bahkan kelainan. Karena itulah tidak diperlukan adanya sistem pengobatan atau bahkan penyembuhan yang perlu dilakukan. Dokter yang akrab dengan panggilan Ryu itu bahkan menyebutkan bahwa LGBT sebagai variasi kehidupan saja. Mengepa demikian? Karena di dalam bagian biologi yang dimiliki oleh para kaum tersebut tidak terdapat hal yang tidak normal. Karena itulah hal ini dianggapnya sebagai bentuk variasi belaka. Beliau bahkan menjelaskan bakat seseorang untuk menjadi seorang lesbian, kemudian gay, biseksual atau bahkan transgender itu sendiri pada dasarnya memang sudah terbentuk ketika dirinya menjadi janin dalam kandungan ibu. Meskipun proses terbentuknya jenis kelamin, kemudian gender serta orientasi seksual adalah proses yang terjadi dengan cara terpisah, namun proses tersebut pada dasarnya memang saling berkaitan antara satu dengan lainnya. Hal inilah yang pada akhirnya menyebabkan ada beberapa orang yang memiliki jenis kelamin laki-laki, namun gendernya justru belum tentu maskulin. Hal ini juga turut memberikan pengaruh pada orientasi seksualnya yang juga belum tentu mengarah pada sosok perempuan. Hal ini juga lebih dijelaskan oleh sosok Ryu melalui penjabarannya yang menyatakan bahwa seseorang yang memiliki kromosom XX belum tentu memiliki jenis kelamin sebagai perempuan, begitupun dengan kromosom XY yang juga belum tentu menjadi sosok laki-laki. fakta biologisnya, banyak sekali variasi genetik, yang pada akhirnya dapat membuat keadaan kromosom menjadi lebih banyak atau malah berkurang. Selain hal tersebut Ryu juga menjelaskan jika kaum LGBT memiliki variasi struktur otak yang berbeda antara satu dengan lainnya, sehingga sulit untuk diubah. Hal ini terkait pula dengan jumlah dari kaum LGBT yang memang jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan masyarakat lainnya. Selain itu Ryu juga menambahkan bahwa seseorang yang termasuk homoseksual pada dasarnya tidak dapat menurunkan sifat asli yang dimilikinya. Hal ini jelas berbeda dengan mereka yang heteroseksual yang mampu memiliki keturunan. Karena itulah pada akhirnya menurut Ryu semua itu kembali pada masing-masing pribadi yang memilikinya, dan bentuk kenyamanan yang dirasakan oleh seseorang. Dengan kata lain ketika seseorang menyukai permainan drum dan memiliki bakat dalam hal tersebut, kemudia ia memilih drum itu tadi dibandingkan dengan gitar, maka hal tersebut tentu saja diperbolehkan. LGBT sebagai bentuk penyakit kejiwaan yang menular Berbeda halnya dengan bentuk pendapat yang disebutkan pada bagian di atas tadi. untuk pendapat yang akan dijelaskan pada bagian di bawah ini justru menyebutkan LGBT sebagai bentuk jenis penyakit. Selain itu penyakit LGBT ini juga dimasukkan dalam kategori penyakit menular. Isu mengenai masalah LGBT saat ini memang tengah menjadi kontroversi di kalangan masyarakat Indonesia. Cukup banyak diantaranya orang yang berpendapat jika LGBT ini bertentangan dengan nilai serta ajaran agama. Namun tidak jarang pula orang yang beranggapan bahwa kaum LGBT berhak untuk menyuarakan keadaannya sehingga ia tidak dikucilkan dari masyarakat di lingkungan sekitarnya. Beberapa orang yang menyatakan pendapatnya bahwa LGBT bukanlah jenis penyakit justru mulai dipatahkan oleh seorang psikiater bernama Dr. Fidiansyah. Menurut beliau mereka yang termasuk dalam kaum yang satu ini justru termasuk orang yang terkena gangguan jiwa. Karena termasuk dalam bentuk penyakit dari gangguan jiwa, maka bentuk penyakit yang satu ini pun dikategorikan sebagai penyakit yang mampu menular pada orang lainnya. Hal tersebut bahkan diterangkan olehnya dalam sebuah buku yang berjudul PedomanPenggolongan Diagnosis dari Gangguan Jiwa. Dalam bukunya tersebut, Fidiansyah menyebutkan jika homoseksual serta biseksual termasuk dalam bentuk gangguan psikologis serta perilaku yang memang berhubungan dengan perkembangan dari orientasi seksual. Dari pernyataannya tersebut Fidiansyah menyatakan bahwa apa yang sudah diungkapkan olehnya atau bahkan psikiater lain yang menyebutkan LGBT sebagai bentuk penyakit menular bukan ingin mendiskriminasi. Menurut beliau hal ini dilakukan justru untuk membantu para kaum tersebut. berkaitan dengan sebutan LGBT sebagai jenis penyakit gangguan jiwa yang menular tentu saja bentuk penularannya pun tidak dilakukan melalui kontak bakteri, virus, atau bahkan mikroba lainnya. Hal ini justru lebih mengarah pada bentuk penularan melalui perubahan sikap perilaku serta bentuk pembiasaan yang dilakukan olehnya. Baca juga : Akibat yang Ditimbulkan dari Pemakaian Celana Ketat bagi Kesehatan Karena itulah LGBT dikatakan dapat menular, yang dilakukan melalui penularan perilaku. Teori penularan yang satu ini diungkapkan melalui bentuk pembiasaan. Seperti halnya ketika seseorang mulai mengikuti satu pola tertentu yang pada akhirnya akan membuat dirinya menjadi satu karekter tersebut. Sehingga pada akhirnya terbentuklah kepribadian, dengan bentuk pembiasaan yang sesuai dengan gangguan dari penyakit jiwa itu tadi. Dari beberapa bentuk pendapat yang sudah dijelaskan pada bagian di atas tadi, Anda dapat melihat bahwa masih banyak pertentangan terkait dengan isu kontroversial dari LGBT itu sendiri. Apakah ia termasuk dalam jenis penyakit yang dikenal dengan sebutan Penyakit LGBT atau bukan? Namun jika hal ini sekiranya merugikan memang lebih baik untuk tidak menjadi bagian di dalamnya.