Waktu Posting : 16-06-2014 01:28 | Dibaca : 2478x
25-06-2018 12:56
Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki banyak tumbuhan. Bahkan tanaman Indonesia sering digunakan untuk jamu bagi produk Jepang. Penggunaan tanaman milik Negara lain untuk dijadikan produk tentu saja harus memiliki izin karena menjadi hak milik Indonesia. Indonesia sendiri juga tidak berbeda dengan Jepang yang memakai tanaman untuk obat herbal. Indonesia juga memakainya untuk obat herbal. Obat herbal sendiri adalah obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan atau bisa juga berasal dari berbagai macam campuran ekstrak tumbuhan. Mulai dari akar, buah, biji batang bahkan bunga. Obat herbal dibagi menjadi dua jenis. Jenis yang pertama adalah jenis obat herbal tradisional, obat herbal tradisional merupakan jenis obat herbal yang sudah terkenal sejak turun temurun, misalnya jamu. Sementara itu jenis yang kedua adalah obat herbal non-tradisional, obat herbal jenis ini adalah jenis yang belum pernah dikenal sebagai obat herbal turun temurun, namun memiliki potensi untuk menyembuhkan atau mengobati atau memiliki manfaat bagi tubuh. Hal misalnya ditemukan paa daun kelor. Saat ini juga sudah banyak bermunculan obat herbal yang dijual bebas dikarenakan semakin banyak orang juga yang memakainya sebagai alternatif dari obat biasa. Beberapa manfaat lain yang bisa didapat dari obat herbal adalah: Mengurangi resiko efek samping Seperti yang sudah diketahui banyak orang. Obat biasa meski dibuat dari tanaman juga akan tetapi mengandung bahan kimia, sehingga berpotensi menyebabkan berbagai efek samping. Sementara itu, obat herbal lebih minim resiko terkena efek sampingnya sehingga lebih banyak orang yang memilih obat herbal. Lebih hemat biaya Manfaat lainnya adalah karena harganya cenderung lebih murah dibandingkan dengan obat tradisional, maka otomatis jumlah pengeluaran oleh pasien juga lebih sedikit dibandingkan saat membeli obat tradisional. Tidak perlu menggunakan resep Obat herbal cenderung memiliki dosis ringan dan biasanya dipakai pada masa penyembuhan. Oleh karena itu pembeliannya tidak perlu menggunakan resep dari dokter, meskipun ada juga dokter herbal seperti yang ada di Korea Selatan. Itu tadi beberapa manfaat pemakaian obat herbal. Semoga bermanfaat bagi kita semua.
19-06-2014 07:26
Banyak alasan yang dikemukakan orang-orang yang rajin begadang. Mulai dari menyelesaikan pekerjaan kantor, ronda malam, perayaan tahun baru, bahkan menonton pertandingan sepak bola di televisi. Alasan-alasan itu juga yang dijadikan biang kerok ketika esoknya bangun kesiangan. Kebiasaan begadang ini tak jarang membuat kesal orang-orang terdekat yang kerap mengingatkan. Seorang dewasa membutuhkan tidur selama 7-9 jam di malam hari. Waktu tersebut dinilai efektif untuk mengembalikan energi setelah seharian beraktivitas. Namun, bila Anda tidur lebih dari 9 jam juga kurang baik. Kelebihan durasi tidur juga akan membawa masalah kesehatan lainnya. Baca juga : Efek Gila Kerja dan Cara Mengatasinya Jam hidup manusia terbagi atas tiga tahap. Tahap pertama adalah delapan jam bekerja normal, delapan jam nerikutnya untuk kerja ringan, dan delapan jam sisanya untuk istirahat. Tidak ada yang dapat menggantikan jam biologis ini. Apabila waktu tidur di malam hari kurang dari 6 jam, maka akan meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung sekira hampir 50 persen dan stroke sebesar 15 persen. Ada juga penelitian yang menyebutkan bahwa apabila waktu tidur Anda kurang dari 6 jam, sebanyak 12 persen lebih mungkin meninggal dunia sebelum usia 65 tahun dibandingkan dengan mereka yang tidur 7-8 jam. Salah satu penyebab berkurangnya waktu tidur yang efektif di malam hari, ya begedang. Mungkin Anda tak menyadari begadang dapat mempengaruhi sistem endokrin dan kardiovaskular sebagai pangatur produksi hormon. Begadang juga mengakibatkan gangguan toleransi glukosa dan berkurangnya sensitivitas terhadap insulin. Hal itu dapat menyebabkan diabetes serta tekanan darah tinggi. Dampaklain dari begadang yang paling sederhana adalah Anda akan menjadi bodoh. Saat Anda kurang tidur, maka akan sering sakit kepala, mudah lupa, dan sulit konsentrasi. Ketika kondisi itu menimpa Anda, jangan harap otak Anda akan mudah merekam kejadian lalu menyimpannya dalam bentuk memori. Selain itu, mana bisa Anda menyimpan memori bila untuk konsentrasi saja susah. Baca juga : Tips Hindari Cedera Saat Futsal Hal lainnya, kulit Anda akan tampak kusam. Wajah Anda tidak ada eloknya bila dihiasi garis-garis halus dan lingkaran hitam di bawah mata. Kurang tidur membuat Anda stres dan tubuh tidak memberi kesempatan tubuhnya memperbaiki diri. Begadang juga berakibat fatal pada jantung. Pasalnya, zat pada kolesterol yang berbentuk seperti lilin, tidak terbentuk. Padahal zat ini dibutuhkan untuk membangun dinding sel dan membuat hormon-hormon tertentu. Akibatnya, aliran darah cenderung diendapkan sehingga bisa menyumbat pembuluh darah. Ketika tumpukan ini semakin banyak di pembuluh darah koroner, maka akan menimbulkan serangan jantung. Dan saat menyumbat di otak, akan menjadi stroke. Tak ada yang melarang Anda begadang, namun Anda harus tahu risiko yang akan Anda terima. Jika dikuatkan daftar dampak buruk dari begadang, maka akan ada sebuah daftar yang panjang. Oleh karena itu, pintar-pintarlah mengatur waktu tidur di tengah kesibukan. Apakah Anda termasuk disiplin atau tidak? Coba mulai hitung, berapa jam Anda tidur dalam sehari? Jangan sampai Anda menyia-nyiakan waktu tidur berharga Anda.!
05-07-2016 19:44
Sebuah hasil survei mengungkap, jumlah orang yang setiap malam rutin tidur 8 jam semakin sedikit. Jadwal kerja yang sibuk, kemacetan di jalan, hingga godaan bermain gadget, membuat tidur menjadi prioritas nomer dua. Dampak dari kurang tidur sebenarnya sudah banyak dibahas, mulai dari kelelahan, kurang konsentrasi, hingga obesitas. Baca juga : Menghindari Jatuh di Kamar Mandi Dalam studi terbaru disebutkan, durasi tidur yang terlalu sedikit atau terlalu banyak, juga berpengaruh pada risiko seseorang menderita diabetes. Tim peneliti menganalisis 800 orang sehat dari berbagai negara Eropa dan secara spesifik mencari tahu hubungan antara durasi tidur dan metabolisme glukosa. "Pada pria, tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit, terkait dengan respons yang rendah pada sel tubuh terhadap insulin, mengurangi penyerapan glukosa, dan dalam jangka panjang meningkatkan risiko diabetes . Pada wanita, kaitan itu tidak diketahui," kata Femke Rutters, yang melakukan penelitian. Baca juga : Beberapa Makanan yang Mempercepat Datangnya Stroke Durasi tidur yang dianggap cukup dalam penelitian ini adalah 7 jam setiap malam. Jika kita kurang tidur, kita cenderung lebih bernafsu pada makanan tidak sehat, emosi tidak stabil, dan mengalami penurunan daya ingat dan konsentrasi. Sementara, jika kita tidur terlalu banyak, kita berpotensi mengalami nyeri punggung, diabetes, dan penyakit jantung