Waktu Posting : 10-09-2014 17:34 | Dibaca : 2446x
23-02-2016 06:26
Saat ini masyarakat banyak dikejutkan dengan LGBT, banyak diantaranya yang belum tau dan mengerti dengan apa itu yang dimaksud oleh LGBT sendiri. Bahkan ada pula beberapa diantaranya yang bertanya apakah LGBT itu termasuk dalam jenis penyakit LGBT atau bukan? Untuk menjawab beberapa bentuk pertanyaan tersebut, sebaiknya Anda perhatikan terlebih dahulu uraian penjelasan di bagian bawah ini : Apa itu LGBT? LGBT atau sering pula disebut sebagai GLBT adalah singkatan dari kata Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Istilah ini sebenarnya sudah digunakan sejak tahun 1990 lalu, namun untuk perkembangannya memang baru dikenal oleh masyarakat dalam beberapa waktu terakhir ini. Penggunaan istilah LGBT pada mualnya digunakan untuk mengganti frasa dari Komunitas Gay. Hal ini juga berkaitan dengan penggunaan kata yang lebih mewakili dari kelompok-kelompok orang yang sudah disebutkan pada bagian di atas itu tadi. Baca juga : Waspadai Penyakit di Musim Hujan dengan Cara Pencegahannya Selain itu penggunaan istilah ini juga digunakan untuk menekan bentuk keanekaragaman yang dilihat melalui kacamata seksualitas serta gender. Bahkan peggunaan istilah tersebut juga tidak hanya digunakan untuk menyebutkan pihak homoseksual atau pun biseksual saja. Karena tidak jarang mereka yang heteroseksual pun dimasukkan dalam istilah yang satu ini. Karena itulah penggunaan istilah LGBT sering pula ditambahkan dengan penggunaan huruf Q yang berarti mewakili kata Queer. Sehingga istilah tersebut pun berubah menjadi LGBTQ atau GLBTQ. Penggunaan istilah ini bahkan tercatat sejak tahun 1996 lalu. Pada dasarnya tidak semua orang setuju dengan penggunaan istilah dari LGBT itu sendiri. Karena ada beberapa diantaranya pendapat yang menyatakan bahwa pergerakan transgender serta transeksual tidak sama dengan apa yang disebut sebagai Lesbian, Gay serta Biseksual. Hal ini berkaitan pula dengan gagasan dari penggunaan kata transgender serta transeksual yang memang berkaitan dengan identitas gender, namun justru terlepas dari bentuk orientasi seksual. LGBT Bukanlah penyakit atau pun kelainan Setelah membicarakan mengenai istilah LGBT yang pada dasarnya sudah dikenal sejak jaman dulu. Salah seorang pakar saraf yang bernama dr. Roslan Yusni Hasan, SpBS justru mengungkapkan pendapatnya terkait dengan LGBT tersebut. Menurut beliau LGBT bukanlah jenis penyakit atau bahkan kelainan. Karena itulah tidak diperlukan adanya sistem pengobatan atau bahkan penyembuhan yang perlu dilakukan. Dokter yang akrab dengan panggilan Ryu itu bahkan menyebutkan bahwa LGBT sebagai variasi kehidupan saja. Mengepa demikian? Karena di dalam bagian biologi yang dimiliki oleh para kaum tersebut tidak terdapat hal yang tidak normal. Karena itulah hal ini dianggapnya sebagai bentuk variasi belaka. Beliau bahkan menjelaskan bakat seseorang untuk menjadi seorang lesbian, kemudian gay, biseksual atau bahkan transgender itu sendiri pada dasarnya memang sudah terbentuk ketika dirinya menjadi janin dalam kandungan ibu. Meskipun proses terbentuknya jenis kelamin, kemudian gender serta orientasi seksual adalah proses yang terjadi dengan cara terpisah, namun proses tersebut pada dasarnya memang saling berkaitan antara satu dengan lainnya. Hal inilah yang pada akhirnya menyebabkan ada beberapa orang yang memiliki jenis kelamin laki-laki, namun gendernya justru belum tentu maskulin. Hal ini juga turut memberikan pengaruh pada orientasi seksualnya yang juga belum tentu mengarah pada sosok perempuan. Hal ini juga lebih dijelaskan oleh sosok Ryu melalui penjabarannya yang menyatakan bahwa seseorang yang memiliki kromosom XX belum tentu memiliki jenis kelamin sebagai perempuan, begitupun dengan kromosom XY yang juga belum tentu menjadi sosok laki-laki. fakta biologisnya, banyak sekali variasi genetik, yang pada akhirnya dapat membuat keadaan kromosom menjadi lebih banyak atau malah berkurang. Selain hal tersebut Ryu juga menjelaskan jika kaum LGBT memiliki variasi struktur otak yang berbeda antara satu dengan lainnya, sehingga sulit untuk diubah. Hal ini terkait pula dengan jumlah dari kaum LGBT yang memang jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan masyarakat lainnya. Selain itu Ryu juga menambahkan bahwa seseorang yang termasuk homoseksual pada dasarnya tidak dapat menurunkan sifat asli yang dimilikinya. Hal ini jelas berbeda dengan mereka yang heteroseksual yang mampu memiliki keturunan. Karena itulah pada akhirnya menurut Ryu semua itu kembali pada masing-masing pribadi yang memilikinya, dan bentuk kenyamanan yang dirasakan oleh seseorang. Dengan kata lain ketika seseorang menyukai permainan drum dan memiliki bakat dalam hal tersebut, kemudia ia memilih drum itu tadi dibandingkan dengan gitar, maka hal tersebut tentu saja diperbolehkan. LGBT sebagai bentuk penyakit kejiwaan yang menular Berbeda halnya dengan bentuk pendapat yang disebutkan pada bagian di atas tadi. untuk pendapat yang akan dijelaskan pada bagian di bawah ini justru menyebutkan LGBT sebagai bentuk jenis penyakit. Selain itu penyakit LGBT ini juga dimasukkan dalam kategori penyakit menular. Isu mengenai masalah LGBT saat ini memang tengah menjadi kontroversi di kalangan masyarakat Indonesia. Cukup banyak diantaranya orang yang berpendapat jika LGBT ini bertentangan dengan nilai serta ajaran agama. Namun tidak jarang pula orang yang beranggapan bahwa kaum LGBT berhak untuk menyuarakan keadaannya sehingga ia tidak dikucilkan dari masyarakat di lingkungan sekitarnya. Beberapa orang yang menyatakan pendapatnya bahwa LGBT bukanlah jenis penyakit justru mulai dipatahkan oleh seorang psikiater bernama Dr. Fidiansyah. Menurut beliau mereka yang termasuk dalam kaum yang satu ini justru termasuk orang yang terkena gangguan jiwa. Karena termasuk dalam bentuk penyakit dari gangguan jiwa, maka bentuk penyakit yang satu ini pun dikategorikan sebagai penyakit yang mampu menular pada orang lainnya. Hal tersebut bahkan diterangkan olehnya dalam sebuah buku yang berjudul PedomanPenggolongan Diagnosis dari Gangguan Jiwa. Dalam bukunya tersebut, Fidiansyah menyebutkan jika homoseksual serta biseksual termasuk dalam bentuk gangguan psikologis serta perilaku yang memang berhubungan dengan perkembangan dari orientasi seksual. Dari pernyataannya tersebut Fidiansyah menyatakan bahwa apa yang sudah diungkapkan olehnya atau bahkan psikiater lain yang menyebutkan LGBT sebagai bentuk penyakit menular bukan ingin mendiskriminasi. Menurut beliau hal ini dilakukan justru untuk membantu para kaum tersebut. berkaitan dengan sebutan LGBT sebagai jenis penyakit gangguan jiwa yang menular tentu saja bentuk penularannya pun tidak dilakukan melalui kontak bakteri, virus, atau bahkan mikroba lainnya. Hal ini justru lebih mengarah pada bentuk penularan melalui perubahan sikap perilaku serta bentuk pembiasaan yang dilakukan olehnya. Baca juga : Akibat yang Ditimbulkan dari Pemakaian Celana Ketat bagi Kesehatan Karena itulah LGBT dikatakan dapat menular, yang dilakukan melalui penularan perilaku. Teori penularan yang satu ini diungkapkan melalui bentuk pembiasaan. Seperti halnya ketika seseorang mulai mengikuti satu pola tertentu yang pada akhirnya akan membuat dirinya menjadi satu karekter tersebut. Sehingga pada akhirnya terbentuklah kepribadian, dengan bentuk pembiasaan yang sesuai dengan gangguan dari penyakit jiwa itu tadi. Dari beberapa bentuk pendapat yang sudah dijelaskan pada bagian di atas tadi, Anda dapat melihat bahwa masih banyak pertentangan terkait dengan isu kontroversial dari LGBT itu sendiri. Apakah ia termasuk dalam jenis penyakit yang dikenal dengan sebutan Penyakit LGBT atau bukan? Namun jika hal ini sekiranya merugikan memang lebih baik untuk tidak menjadi bagian di dalamnya.
17-06-2014 07:19
Berbagai pekerjaan mengharuskan kita berlama-lama di depan komputer. Kalau Anda salah satu yang mengalaminya, saatnya mulai memperhatikan bagaimana kondisi mata, kepala, leher, dan punggung Anda? Mata menjadi bagian tubuh yang paling terdampak akibat pemakaian komputer yang terlalu lama. Mata akan berakomodasi secara berlebihan sehingga cepat lelah. Kalau itu terjadi terus-menerus akan ada gangguan visus, gangguan penglihatan. Pada orang muda, biasanya menjadi minus atau bertambah minusnya. Itu karena mata seakan dipaksa bekerja terus-menerus. Sebuah penelitian dari American Optometric Association tentang dampak komputer terhadap kesehatan mata menunjukkan hasil bahwa kondisi yang paling umum terjadi adalah mata lelah dan ketegangan otot mata. Selain itu, ada nyeri kepala, gangguan penglihatan seperti buram serta sakit pada leher dan bahu. Baca juga : Tips Menghindari Kerontokan Rambut Penelitian itu pun menyatakan, menurunnya kesehatan mata akibat penggunaan komputer akan berdampak lagi berupa penurunan produktivitas kerja dan meningkatnya tingkat kesalahan kerja. Selain mata, kepala tempat mata bernaung juga bisa terdampak kesehatannya. Terlalu lama bekerja, otak akan menjadi tidak rileks. Lama-kelamaan bisa muncul kondisi nyeri kepala seperti nyut-nyutan ataupun pusing seperti limbung. Bukan hanya di bagian atas, dampak kesehatan itu juga terjadi di keseluruhan otot badan mulai dari leher, punggung atau tulang belakang, dan sampai ke kaki. Dampak yang muncul mulai dari pegal linu sampai nyeri otot. Coba Anda ingat-ingat bagaimana kondisi tubuh saat bekerja di depan komputer. Adakah yang tahan berjam-jam dengan posisi tegak? Atau membungkuk mendekatkan kepala ke layar? Atau malah selonjoran saking lelahnya? Otot tubuh jelas terganggu karena biasanya duduk dengan posisi yang sama dalam waktu yang sama. Otot berkontraksi terus tanpa relaksasi sehingga menimbulkan gangguan kesehatan otot. Bahkan, ada pula yang tulang punggungnyamenjadi berubah bentuk bila dibiarkan dalm jangka panjang. Beban pekerjaan dalam berbagai profesi ini memang menuntut seseorang bekerja di depan komputer tanpa bisa bergerak. Apalagi saat deadline mendekat, tubuh ini seakan tertancap dikursi dan kita pun harus terus berhadapan dengan komputer. Kondisi itu membuat tubuh terlalu banyak diam. Akhirnya, muncullah berbagai efek sekunder yang sebenarnya tak berkaitan langsung dengan komputer dan baru akan dirasakan dalam jangka panjang. Salah satunya adalah jantung. Karena kurang aktivitas fisik, otot jantung pun menjadi tidak terlatih. Jantung pun akan mudah kena gangguan. Sirkulasi darah pun menjadi kurang lancar sehingga tubuh mudah nyeri. Saat serius bekerja pun orang-orang cenderung tak teratur pola makannya hingga muncul gangguan lambung. Biasanya mereka pun kurang minum air putih dan apalagi suka malas buang air kecil karena sedang kagok bekerja. Akhirnya fungsi ginjal dapat terganggu. Apalagi beberapa orang terbiasa bekerja depan komputer sambil merokok dan minum kopi. Alasannya untuk memudahkan otak bekerja. Padahal, itu malah akan berdampak nyata pada kesehatan paru-paru dan organ lain di dalam tubuh. Baca juga : Lensa Kontak, Amankah? Berikut ini beberapa tips agar Anda bisa tetap sehat walau sering duduk berlama-lama di depan komputer : Setelah dua jam bekerja di depan komputer, keluarlah dari kantor! Carilah pemandangan hijau seperti pepohonan untuk menyegarkan mata. Lakukan selama 15 menit. Selama 15 menit itu, gerakkan badan, terutama yang tidak mengalami pergerakan selama duduk di depan komputer. Itu akan meregangkan dan merelaksasi otot. Saat waktu istirahat, berhenti bekerja! Pakai waktu istirahat untuk makan dan menggerakkan badan. Selama bekerja, selalu sediakan air putih dan rajinlah minum. Itu akan mengakibatkan frekuensi buang air kecil meningkat, tapi jangan malas ke toilet bahkan manfaatkan momen itu untuk meregangkan otot badan. Atur posisi layar komputer supaya berada persis di hadapan kita. Ada beberapa meja kerja yang menempatkan layar di samping, itu akan membuat tulang punggung berubah bentuk. Hasil penelitian American Optometric Association menunjukkan kita harus mengatur pencahayaan layar komputer supaya tidak terlalu terang dan tidak terlalu gelap sehingga mata tidak cepat lelah. Penelitian itu juga menganjurkan penataan penerangan di ruang kerja. Posisi komputer pun diatur supaya lampu ruangan tidak menimbulkan bayangan yang mengganggu di layar. Antisipasi kondisi ruang kerja dengan menggunakan tirai supaya pencahayaan bisa dikontrol sepanjang hari. Sebagai individu, kita harus mengantisipasi dampak kesehatan itu sebelum ada keluhan yang nyata, atau kalau pun ada maka kondisinya tak bertambah parah. Selain itu, setiap perusahaan pun sebaiknya menerapkan kebijakan mengenai durasi maksimal di depan komputer sehingga bisa diselingi dengan relaksasi atau kegiatan lain. Kalau dipaksa terus-menerus dalam jangka panjang dan akhirnya sakit, sudah pasti pekerjaan pun tidak bisa ditangani sesuai target. Jadi, mari mencegah daripada mengobati!  Â
02-07-2024 12:23
Kanker otak stadium 4 (Glioblastoma Multiforme) adalah kanker yang tumbuh cepat dan agresif di otak dan sumsum tulang belakang. Penyakit ini menyerang jaringan otak terdekat. Tetapi pada umumnya tidak menyebar ke organ yang jauh. GBM adalah kanker otak yang dapat menyebabkan kematian dalam waktu enam bulan atau kurang jika tidak ditangani, oleh karena itu, sangat penting untuk segera mencari perawatan ke dokter spesialis neuro-onkologi dan bedah saraf. Kanker otak stadium 4 tidak dapat disembuhkan Glioblastoma tetap merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Rata-rata penderitanya memiliki harapan hidup rata-rata 15 bulan. Hanya 5,5% pasien bertahan lima tahun setelah diagnosis. GBM terdiri dari subtipe primer dan sekunder yang berevolusi melalui jalur genetik yang berbeda, yang memengaruhi pasien pada usia yang berbeda dengan hasil yang berbeda. GBM dapat terjadi pada semua usia. Namun cenderung lebih sering terjadi pada kelompok usia paruh baya tua dan lebih sering terjadi pada pria. Tidak ada obat untuk GBM, perawatan mungkin memperlambat pertumbuhan kanker dan mengurangi gejala. https://pafikotasimpangtigaredelong.org/ Gejala kanker otak stadium 4 Gejala bisa bervariasi tergantung pada lokasi kanker di otak, tetapi gejala yang mungkin terjadi adalah berikut ini : Sakit kepala terus-menerus Penglihatan ganda/kabur Muntah Kehilangan selera makan Perubahan suasana hati dan kepribadian Perubahan kemampuan berpikir dan belajar Kejang Penurunan kemampuan berbicara secara bertahap. Diagnosis kanker otak stadium 4 Ada beberapa jenis tes dan prosedur yang digunakan untuk mendiagnosis GBM, antara lain : 1. Tes Neurologis Jenis tes ini memeriksa penglihatan, pendengaran, keseimbangan, koordinasi, kekuatan, dan refleks. Tes ini dapat memberi petunjuk tentang bagian otak yang terkena GBM. 2. Tes Pencitraan Tes pencitraan dapat membantu menemukan lokasi dan ukuran GBM. MRI sering digunakan untuk mendiagnosis penyakit ini. Tes pencitraan lain mungkin termasuk CT Scan dan Positron Emission Tomography (PET). 3. Mengambil sampel jaringan untuk pengujian Biopsi adalah prosedur untuk mengambil sampel jaringan untuk pengujian. Cara pengambilannya dilakukan menggunakan jarum sebelum operasi atau selama operasi untuk mengangkat GBM. Sampel dikirim ke laboratorium untuk pengujian. Tes dapat mengetahui apakah sel-sel itu kanker atau apakah itu sel GBM. Tes khusus sel kanker dapat memberi tim dokter pasien lebih banyak informasi tentang GMB dan prognosis pasien. Tim menggunakan informasi ini untuk membuat rencana perawatan. Prosedur Pengobatan kanker otak stadium 4 Kanker otak stadium 4 memang tak bisa disembuhkan namun dengan pengobatan bisa memperlambat dan memperpanjang harapan hidup. Perawatan andalan untuk GBM adalah operasi atau pembedahan, diikuti dengan radiasi dan kemoterapi. Tujuan utama pembedahan adalah mengangkat kanker sebanyak mungkin tanpa melukai jaringan otak normal di sekitarnya. 1. Pembedahan Pembedahan dilakukan untuk mengurangi jumlah jaringan kanker padat di dalam otak, membuang sel-sel di pusat kanker yang mungkin resisten terhadap radiasi dan/atau kemoterapi tahap awal. Di samping itu juga mengurangi tekanan pada otak. 2. Terapi radiasi Setelah operasi dan luka sembuh, terapi radiasi bisa dimulai. Tujuan dari terapi radiasi adalah untuk secara selektif membunuh sisa sel kanker yang telah menyusup ke jaringan otak normal di dalamnya. Dalam terapi radiasi sinar eksternal standar, beberapa sesi ‘fraksi’ dosis standar radiasi dikirim ke lokasi kanker.. Sayangnya, setiap perawatan menyebabkan kerusakan pada jaringan sehat dan normal di sekitarnya. Namun pada saat pemberian terapi selanjutnya, sel sehat telah berhasil memperbaiki diri sementara sel kanker tidak. Proses ini diulang untuk total 10 sampai 30 kali perawatan, biasanya diberikan sekali sehari, lima kali seminggu, tergantung jenis tumornya. Penggunaan terapi radiasi memberi sebagian besar pasien hasil yang lebih baik dan tingkat kelangsungan hidup yang lebih lama dibandingkan dengan operasi saja atau perawatan suportif terbaik. Pasien yang menjalani kemoterapi diberikan obat khusus yang dirancang untuk membunuh sel kanker. Kemoterapi dengan obat temozolomide adalah standar pengobatan GBM saat ini. Obat ini umumnya diberikan setiap hari selama terapi radiasi dan kemudian selama enam siklus setelah radiasi selama fase perawatan. Prognosis Glioblastoma adalah kanker agresif yang sulit diobati. Perawatan dilakukan untuk meringankan gejala dan membantu pasien tetap nyaman serta memperpanjang hidup pengidapnya.