Waktu Posting : 14-06-2014 15:30 | Dibaca : 2682x
05-07-2016 05:07
Imunisasi merupakan salah satu cara mencegah penyakit berat pada anak. Infeksi yang bisa dicegah dengan imunisasi antara lain polio, campak, difteri, tuberkulosis, dan hepatitis B. Vaksin dibuat dengan melemahkan virus atau bakteri, namun dalam bentuk yang tidak membahayakan tubuh. Malah, bagian dari virus atau bakteri yang sudah dilemahkan itu akan membantu tubuh membentuk antibodi yang membuat anak menjadi kebal terhadap penyakit tertentu. Pada kasus peredaran vaksin palsu yang baru diungkap oleh kepolisian, diduga para tersangka pemalsuan vaksin mencampur cairan infus dengan antibiotik atau vaksin tetanus. Baca juga : Ingin Coba? Ternyata Ini Manfaat Pakai Kaos Kaki Isi Bawang Merah Menurut ahli vaksin, dr.Dirga Sakti Rambe Msc-VPCD, ada dua efek negatif pemberian vaksin palsu pada bayi. "Yang pertama dampak keamanan vaksin palsu itu dan yang kedua dampak proteksi atau kekebalan, yakni bayi yang diberi vaksin palsu tentu tidak memiliki proteksi atau kekebalan," kata Rambe seperti dikutip Antara. Ahli vaksin dari Universitas Siena, Italia itu, menambahkan, terkait dampak keamanan, kata dia, tergantung dari larutan yang dicampurkan pembuat vaksin palsu. Saat ini, kandungan yang terdapat dalam vaksin palsu masih diteliti lebih lanjut oleh Pusat Laboratorium Forensik Kepolisian Indonesia dan Badan POM. "Yang jelas proses pembuatan vaksin palsu tentu tidak steril bisa tercemar virus, bakteri, dan lain sebagainya yang tidak baik bagi kesehatan," katanya. Dia menambahkan, kemungkinan jangka pendek yang dapat terjadi adalah timbulnya infeksi. "Infeksi bisa bersifat ringan bisa juga infeksi sistemik. Infeksi berat bisa berupa demam tinggi, laju nadi meningkat, laju pernafasan meningkat, leukosit meningkat, anak sulit makan minum hingga terjadinya penurunan kesadaran," katanya. Menurut Kementrian Kesehatan RI dalam twitnya melalui akun @KemenkesRI, karena vaksin palsu dibuat dengan cara yang tidak baik, maka kemungkinan timbulkan infeksi. Baca juga : Waspada, Ini 5 Penyakit yang Sering Salah Diagnosis! Gejala infeksi ini bisa dilihat tidak lama setelah diimunisasikan. Jadi kalau sudah sekian lama tidak mengalami gejala infeksi setelah imunisasi bisa dipastikan aman. Bisa jadi anak Anda bukan diimunisasi dengan vaksin palsu, tetapi memang dengan vaksin asli. Sementara itu, untuk dampak proteksi tujuan vaksinasi tidak tercapai, yaitu membentuk kekebalan tubuh sebelum seseorang jatuh sakit. Misalnya, seorang anak mendapat vaksinasi Hepatitis B sebanyak 3 kali. Setelah terpenuhi, anak ini kebal bila kelak terpapar oleh virus Hepatitis B. Ia sudah kebal tanpa harus jatuh sakit. Sementara anak yang tidak divaksinasi, harus sakit dulu baru dapat memiliki kekebalan. Bila ternyata anak ini mendapatkan vaksin yang palsu, tentu kekebalan itu tidak pernah ada.
13-12-2025 18:21
Anies Baswedan kembali menyuarakan perlunya langkah tegas pemerintah pusat dalam merespons rangkaian banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Berdasarkan hasil peninjauan langsung ke lapangan, Anies menilai bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sudah layak ditetapkan sebagai Bencana Nasional Aceh dan kawasan sekitarnya. Menurutnya, keputusan tersebut penting agar penanganan dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi dan berdampak nyata bagi masyarakat terdampak.Dalam beberapa hari terakhir, Anies mengunjungi wilayah-wilayah yang mengalami kerusakan cukup parah, seperti Aceh Tamiang, Langkat, hingga Kota Padang. Ia menyaksikan langsung rumah warga yang hancur, akses jalan yang terputus, serta fasilitas umum yang lumpuh akibat terjangan banjir dan longsor. Di lokasi pengungsian, Anies meluangkan waktu untuk berdialog dengan warga, mendengarkan keluhan mereka, dan melihat secara langsung kondisi kehidupan di tengah keterbatasan.Ia bercerita, banyak ibu-ibu kehilangan rumah dan harta benda, sementara anak-anak terpaksa menghentikan kegiatan sekolah karena bangunan pendidikan rusak atau dijadikan tempat pengungsian. Tidak sedikit pula kepala keluarga yang kehilangan mata pencaharian karena lahan pertanian dan tempat usaha mereka tertimbun lumpur serta material kayu. Kondisi ini, menurut Anies, menunjukkan bahwa dampak bencana sangat luas dan menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat.Kalau melihat langsung situasinya, ini bukan bencana kecil. Skala kerusakan dan jumlah warga terdampak menunjukkan bahwa daerah tidak bisa menanganinya sendirian. Negara perlu hadir penuh melalui penetapan bencana nasional, ujar Anies.Ia menegaskan bahwa penetapan Bencana Nasional Aceh bukan sekadar urusan administratif. Status tersebut merupakan pengakuan negara atas besarnya dampak bencana sekaligus dasar hukum untuk menggerakkan sumber daya nasional secara maksimal. Dengan status nasional, pemerintah pusat memiliki ruang yang lebih luas untuk mengalokasikan anggaran, mengerahkan personel lintas kementerian dan lembaga, serta memobilisasi peralatan berat dalam satu komando yang jelas.Anies menjelaskan bahwa manfaat langsung dari penetapan status bencana nasional adalah percepatan penanganan pada fase darurat. Bantuan logistik seperti bahan makanan, air bersih, obat-obatan, tenda, dan perlengkapan dasar lainnya dapat disalurkan lebih cepat dan dalam jumlah besar. Selain itu, pengerahan alat berat untuk membersihkan material longsor dan membuka kembali akses jalan yang terputus akan sangat membantu memperlancar distribusi bantuan.Selain kebutuhan fisik, Anies juga menyoroti pentingnya layanan kesehatan dan dukungan psikososial. Menurutnya, trauma akibat bencana tidak boleh diabaikan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan. Penanganan kesehatan yang menyeluruh, termasuk pendampingan mental, perlu menjadi bagian dari respons negara terhadap Bencana Nasional Aceh.Lebih lanjut, Anies menilai bahwa penetapan status nasional sangat menentukan keberhasilan pemulihan jangka menengah dan panjang. Proses rehabilitasi dan rekonstruksi membutuhkan dukungan anggaran besar dan koordinasi lintas sektor. Dengan status bencana nasional, pembangunan kembali rumah warga, perbaikan sekolah, fasilitas kesehatan, serta pemulihan infrastruktur jalan dan jembatan dapat dilakukan secara lebih terencana dan terintegrasi.Dampak ekonomi pascabencana juga menjadi perhatian serius. Banyak warga kehilangan sumber penghasilan karena sawah, kebun, dan usaha kecil mereka rusak. Anies mendorong pemerintah untuk menyiapkan program pemulihan ekonomi, seperti bantuan modal usaha, dukungan bagi petani dan nelayan, serta program padat karya. Langkah ini dinilai penting agar masyarakat tidak terjebak dalam kondisi rentan berkepanjangan.Menanggapi kekhawatiran publik terkait potensi tumpang tindih kewenangan atau risiko penyalahgunaan anggaran, Anies menilai bahwa hal tersebut seharusnya dijawab dengan penguatan pengawasan. Transparansi, akuntabilitas, dan keterlibatan masyarakat sipil perlu menjadi bagian dari pelaksanaan kebijakan sejak awal.Kekhawatiran itu wajar, tetapi solusinya bukan menunda penetapan bencana nasional. Yang harus diperkuat adalah tata kelola dan pengawasan agar bantuan tepat sasaran, katanya.Bagi Anies, penetapan Bencana Nasional Aceh juga memiliki makna moral yang penting. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa negara tidak menutup mata terhadap penderitaan rakyatnya dan berani mengambil langkah besar demi melindungi keselamatan serta martabat warga.Ia menambahkan bahwa meskipun bencana telah berlangsung beberapa waktu, penetapan status nasional tetap relevan. Proses pemulihan diperkirakan akan memakan waktu panjang, bahkan hingga satu atau dua tahun ke depan. Oleh karena itu, keputusan yang diambil saat ini akan sangat menentukan kekuatan dukungan negara dalam masa pemulihan tersebut.Menutup pernyataannya, Anies mengajak seluruh elemen bangsa, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, organisasi masyarakat, hingga masyarakat luas, untuk bersama-sama mengawal penanganan Bencana Nasional Aceh secara transparan dan bertanggung jawab. Ia berharap, masyarakat terdampak tidak hanya menerima bantuan darurat, tetapi juga mendapatkan kepastian pemulihan yang berkelanjutan dan berkeadilan.
08-07-2014 11:23
Mengenal Untuk Menghindari Kanker Usus - Kanker usus dapat diakibatkan karena pencernaan saat buang air besar kurang lancar. Sering menahan BAB adalah kebiasaan yang salah. Kondisi yang seharusnya tubuh harus segera membuang kotoran menjadi Anda tahan. Maka kotoran akan tumbuh menjadi sumber penyakit. Berada dekat dengan daerah usus maka tidak menutup kemungkinan penyakit seperti kanker usus akan mudah menyerang. Baca juga : Mengenal untuk Menghindari Kanker Usus Anda akan sangat tersiksa, sudah menahan keinginan untuk BAB, perut melilit, dan yang terjadi saat ingin sekali BAB menjadi sulit untuk dikeluarkan. Pengaruh pasti adalah kanker usus akan Anda derita. Sangat baik untuk membiasakan hidup sehat tanpa menahan keinginan untuk BAB. Pencernaan yang sehat, usus akan sehat, dan kanker usus dapat terhindarkan. Sebab penyakit kanker usus bukanlah termasuk penyakit karena genetik. Lebih berpengaruh pada gaya hidup yang kurang sehat terlebih kurang mengkonsumsi asupan serat. BAB yang sehat adalah setiap hari. Jika ada satu atau sampai dua hari tidak dapat BAB maka Anda kurang mengkonsumsi serat. Baca juga : Kiat Makan Gorengan yang Sehat Bayangkan, BAB yang sudah ada di daerah anus namun tidak dapat keluar karena Anda tidak merasakan keinginan untuk BAB. Maka selama dua hari saja BAB sudah akan menyebabkan sumber penyakit. Untuk itu paksa agar Anda memiliki keinginan untuk BAB dengan banyak mengkonsumsi sumber gizi seperti serat. Selain serat juga konsumsi yogurt agar usus Anda selalu sehat karena mengandung prebiotik dan probiotik.