Waktu Posting : 28-05-2014 12:20 | Dibaca : 2622x
21-06-2014 03:52
Asti merasa lega sekaligus heran setelah membawa Icha, putrinya, berobat ke klinik THT (Telinga, Hidung, dan Tenggorokan). Asti lega ternyata berkurangnya pendengaran Icha selama seminggu ini hanya disebabkan oleh sumbatan kotoran telinga, bukan oleh suatu kelainan atau penyakit serius. Akan tetapi Asti juga tak habis pikir, mengapa telinga Icha justru tersumbat oleh kotoran, padahal ia rajin sekali membersihkan telinga putrinya itu. Ia pun selalu menggunakan lidi kapas khusus, tak pernah menggunakan benda tajam yang dapat melukai telinga. Nah, lho! Sudah rajin dibersihkan, kok malah tersumbat kotoran? Sebenarnya yang dimaksud dengan kotoran telinga tak lain adalah serumen, yaitu suatu substansi di dalam lubang telinga yang berwarna kekuningan dan lengket. Konsistensinya biasanya lunak, tetapi kadang-kadang padat, terutama dipengaruhi oleh keturunan, disamping faktor lain seperti iklim dan usia. Serumen, istilah yang datang dari bhs Latin, yakni cera (lilin), adalah produksi alamiah telinga. Sepertiga sisi luar dari lubang telinga memanglah memiliki kandungan kelenjar yang berperan memproduksi serumen. Pada beberapa orang dihasilkan banyak serumen seperti beberapa orang lebih gampang berkeringat dibanding yang lain. Oleh lantaran berniat dibentuk, pastinya serumen tak ditujukan semacam pengganggu, malah sebaliknya serumen adalah satu wujud perlindungan pada telinga. Baca juga : Konsumsi 5 Makanan Bergizi Ini Untuk Dapatkan Payudara Sehat Serumen di lubang telinga bakal menangkap debu, mikroorganisme, ataupun partikel-partikel asing, serta menghindarnya masuk ke susunan telinga yang lebih dalam. Serumen juga mempunyai efek bakterisidal (bisa membunuh bakteri). Efek itu disangka datang dari komponen asam lemak, lisozim serta immunoglobulin yang dikandungnya. Kecuali itu, pH serumen yang relatif rendah adalah satu aspek penambahan yang bisa menghindar terjadinya infeksi. Serumen juga berperan semacam pelumas yang bakal melindungi telinga agar tak kekeringan. Dalam keadaan kekeringan, lubang telinga bakal benar-benar gampang terbuka, mengakibatkan telinga bakal jadi nyeri serta rawan pada infeksi. Ini menunjukkan bahwasanya serumen tak cuma membuat perlindungan telinga dari ancaman yang datang dari luar, tetapi juga melindungi supaya lingkungan didalam telinga terus ada dalam keadaan yang fisiologis. Pembersihan serumen dengan cara terus-menerus terlebih hingga di hilangkan semuanya malah bakal merugikan. Pada prinsipnya, telinga bakal bersihkan dianya. Umumnya serumen bakal terbentuk sedikit untuk sedikit, lalu bakal keluar sendiri pada saat mengunyah dengan membawa dan beragam kontaminan yang terjebak bersamanya. Sesudah hingga diluar lubang telinga serumen bakal hilang menguap oleh panas. Tetapi, kondisinya barangkali tidak sama pada tiap-tiap orang, tergantung pada banyak produksi serumen. Baca juga : Kebiasaan yang bisa cegah Obesitas bagi Wanita Kantor Rutinitas mengorek-ngorek telinga umum kita temui, ada yang memakai batang korek api, tisu, lidi kapas spesial, atau juga benda-benda kecil yang terbuat dari logam. Apa pun bahan yang dipakai, bersihkan telinga tak bisa kita kerjakan sendiri. Bersihkan telinga mesti dikerjakan oleh orang yang pakar serta terlatih. Karenanya kita bisa berkunjung ke klinik-klinik THT dirumah sakit paling dekat atau ke praktek pribadi dokter, terutama dokter spesialis THT. Dengan mengorek telinga, kita malah mendorong serumen ke celah sempit itu, tempat di mana semestinya serumen tak terbentuk. Mengakibatkan serumen bakal terjerat serta terakumulasi sampai pada akhirnya mengakibatkan sumbatan pada lubang telinga. Sumbatan itu bakal menghambat hantaran gelombang nada ke gendang telinga hingga pendengaran bakal jadi menyusut. Kecuali menyusutnya pendengaran, tanda-tanda disebabkan sumbatan serumen bisa juga berbentuk rasa terhalang serta barangkali juga rasa nyeri pada telinga. Kadang-kadang sumbatan serumen yang padat jadi lembab, umpamanya sesudah mandi, maka sumbatan itu bisa mengembang serta mengakibatkan masalah pendengaran sesaat. Jadi, sudah saatnya untuk melupakan kebiasaan mengorek telinga agar terhindar dari berbagai macam bahaya yang ditimbulkannya.
31-08-2018 14:15
Bayi yang telah menginjak usia 6 bulan sudah seharusnya diberi makanan pendamping ASI. Makanan pendamping ini bisa beragam namun harus bertekstur halus dan lembut. Beberapa makanan tersebut antara lain daging, sayur atau buah yang telah dihaluskan terlebih dahulu sebelum diberikan pada buah hati. Ternyata ada makanan pendamping ASI lainnya yang tak kalah menyehatkan dari makanan yang telah disebutkan tadi yaitu air tajin. Air tajin merupakan air yang berasal dari beras yang dimasak. Air tajin akan mendidih saat beras sudah setangah matang. Air tajin mengandung sari pati beras sebelum matang menjadi nasi. Sari pati ini memiliki sgeudang manfaat untuk kesehatan orang dewasa maupun bayi. Berikut ini beberapa manfaat air tajin untuk bayi : Sumber energi Bayi yang sehat dan aktif merupakan kebahagiaan tersendiri untuk orang tua. Agar bayi sehat dan aktif, maka ia pun perlu mendapatkan sumber energi yang banyak. Air tajin merupakan solusi yang tepat karena mengandung vitamin dan nutrisi agar anak memiliki energi yang cukup untuk beraktivitas sepanjang hari. Obat diare Air tajin mampu mengatasi dan mengobati diare baik pada orang dewasa maupun pada bayi. Air tajin mengandung nutrisi yang sangat ampuh untuk mengobati diare (diare ringan, sedang dan cukup parah). Obat penurun demam Saat bayi tak mau makan dan deman maka segera berika air tajin sebagai sumber enregi dan vitamin untuk bayi. Bukan hanya dapat membuat kenyang tapi air tajin juga mengandung banyak nutrisi yang ampuh menurunkan demam serta masalah kesehatan lainnya pada bayi.
24-03-2015 11:43
Penyakit diabetes melitus dapat membuat seseorang merasa dibatasi, sebab ia harus waspada dengan apa saja yang ia konsumsi agar kadar gula dalam darah tetap terkontrol. Kondisi seperti ini bisa sangat sulit, apalagi banyak sekali godaan yang muncul seperti hidangan santapan lezat dan manis di depan mata yang menjadi pantangan baginya. Beberapa jenis makanan tersebut di antaranya mie, pasta, nasi, roti putih, kentang, kafein, gorengan dan minuman bersoda. Lalu, apa yang harus dilakukan oleh penderita penyakit gula agar tetap bisa menjalani hidupnya dengan normal? Baca juga : Berbagai Gejala Diabetes Melitus Tipe 2 Gaya hidup sehat adalah kunci utama menjaga kadar gula darah seimbang dan terkontrol pada penderita diabetes melitus. Langkah tersebut meliputi olahraga rutin dan pola makan teratur serta tepat. Cara tersebut telah berhasil membuat banyak penderita penyakit gula atau kencing manis bertahan dengan kehidupan yang sehat dan normal, bahkan tanpa tergantung dengan obat-obatan. Yang terpenting adalah fokus penuh pada kada gula darah yang terkontrol. Jalankan diet khusus penderita diabetes yang mengacu pada pilihan makanan yang tepat. Untuk memudahkan langkah tersebut, Anda dapat mengikuti tips berikut ini: § Konsumsi makanan berserat tinggi dan karbohidrat kompleks dimana sistem pencernaan akan lebih mudah mengurainya sehingga membantu menjaga kadar glukosa. Anda dapat mengkomsumsi nasi merah, gandum, sereal, sayuran dan buah-buahan. Baca juga : Cara Menyembuhkan Diabetes yang Ampuh § Cermat memilih yang manis, secukupnya saja dan tidak berlebihan. Kurangi porsi karbohidrat saat Anda akan makan sesuatu yang manis setelahnya. § Bijak memilih lemak. Pilih lemak tak jenuh yang dapat diperoleh dari tumbuhan dan ikan. § Jalani pola makan teratur dan buat catatan harian. Aturan yang dianjurkan, termasuk dalam upaya penurunan berat badan pada penderita penyakit gula adalah 3 kali makan utama dan 2 kali makan ringan dalam sehari. Tentunya, atur porsi secukupnya serta buat catatan harian yang bertujuan untuk merekap asupan makanan dan membantu proses evaluasi pada diet yang dijalankan. Resiko komplikasi fungsi organ setelah divonis menderita penyakit gula memang menjadi momok bagi semua orang. Akan tetapi, kemungkinan tersebut dapat dihindari atau diperkecil dengan pola hidup sehat termasuk olahraga dan diet yang tepat untuk penderita diabetes melitus.