Waktu Posting : 30-05-2014 17:03 | Dibaca : 2743x
25-07-2014 13:45
Butuh Waktu Salah satu penyakit mematikan yang katanya tak memiliki obat adalah kanker. Pasalnya, ada saja jenis kanker yang setelah disingkirkan, masih dapat kembali lagi menyerang tubuh. Penanganannya pun macam-macam, namun pengobatan paling awam yang diketahui adalah dengan menjalani kemoterapi. Meski ada pula cara lain atau obat kanker lain yang bisa digunakan untuk melawan kanker, kemoterapi kerap disarankan terutama bagi mereka yang penyakitnya sudah parah. Baca juga : Tanaman Obat Keluarga Kemoterapi merupakan satu cara pengobatan yang menggunakan penyakit untuk menyerang penyakit lain. Maksud penyakit di sini adalah zat yang buruk bagi tubuh, tetapi berfungsi pula untuk menyingkirkan kanker. Karena itulah para pasien yang menjalani kemoterapi biasanya akan terlihat sangat lemah dengan rambut yang terus rontok dan warna kulit yang terus memucat. Baca juga : Menjalani Terapi Obat Stroke Minta Rekomendasi Selain kemoterapi, ada obat kanker lain yang sebenarnya bisa dijalani pasien, apalagi bagi mereka yang temuan kankernya masih pada fase awal dan belum begitu berkembang. Untuk mendapatkannya, pasien dan keluarganya tentu harus meminta rekomendasi kepada dokternya. Dengan berkonsultasi, diharapkan obat yang dipilih adalah pilihan pasien sendiri dan dapat bekerja dengan baik di bawah bimbingan dokter. Selain dengan obat-obatan dari rumah sakit atau yang direkomendasikan oleh dokter, pasien juga memiliki kebebasan untuk mencari ramuan obat kanker lain yang dirasa lebih tepat, seperti herbal dan obat dari bahan-bahan alami.
25-04-2014 03:15
Terlalu Dini Minum Obat Medis Hipertensi Bisa Picu Stroke - Seakan sudah dilumrahkan awam kalau setiap tekanan darah atas atau sistolik di atas 120 dan tekanan bawah distolik di atas 80 serta merta dianggap sudah darah tinggi (hipertensi). Tak soal kapan diukur, bagaimana mengukurnya, dan dalam kondisi apa orang diukur. Kita tahu tekanan darah berfluktuasi dari waktu ke waktu, bahkan dari jam ke jam. Emosi, kondisi bergiat, efek hormonal dan faktor stres ikut mempengaruhi tekanan darah. Vonis bahwa seseorang hipertensi tidak dihasilkan oleh keputusan selewat sambil lalu. Sekali seseorang divonis hipertensi, mungkin harus berurusan dengan terus minum obat. Sikap seperti itu tidaklah bijak. Karena bila keputusan itu ternyata tidak tepat, orang merugi karena harus minum obat untuk sesuatu yang belum perlu. Baca juga : Obat Hipertensi dari Jus Buah-buahan Sejatinya, tekanan darah diukur pada saat baru bangun tidur pagi hari. Belum melakukan apa-apa, misal belum mengomel pada pembantu, belum merasa jengkel, dan belum juga bergiat fisik, di saat itulah tekanan darah langsung diukur. Tekanan darah saat itu mencerminkan kondisi semurninya tekanan darah. Tentu akan menjadi berbeda hasilnya bila diukur sudah melakukan aktivitas. Seseorang baru dipastikan hipertensi bila diukur tiga kali berturut-turut selang waktu beberapa hari dengan alat yang sama memberikan hasil yang sama-sama lebih tinggi dari normal. Hanya dari pemeriksaan tensi satu kali saja, dan hanya karena melihat lebih tinggi dari 120/80 mmHg, lalu langsung memastikan kalau itu hipertensi, bisa jadi belum tentu diagnosis yang betul. Optimalnya tekanan darah itu kurang atau sama dengan 120/80 mmHg. Menurut WHO International Society of Hypertension, tensi 130/85 mmHg masih tergolong normal dan 139/89 mmHg tergolong normal atas (high normal). Seseorang baru dikategorikan hipertensi (ringan) setelah tensinya 140/90 mmHg. Tentu dengan catatan, pengukuran dilakukan dengan kondisi seperti sudah disebut di atas dan alat tensimeternya sudah ditera normal. Baca juga : Tips Hidup Sehat Bersama Darah Tinggi Jadi kalau kondisi pengukuran tidak menghasilkan nilai tensi yang sesungguhnya dan tensinya belum berkategori hipertensi, tak bijak kalau terlalu cepat langsung diintervensi dengan obat. Mengapa? Bila tensi ternyata bukan yang sesungguhnya langsung diberi obat, bisa jadi tensi darah malah jadi anjlok. Kita tahu, tubuh punya mekanisme otoregulasi tekanan darah. Waspadai bila tak ada riwayat darah tidak pernah tinggi mendadak jadi tinggi. Perlu lebih kritis untuk bertanya ulang kalau dokter masih memberi resep, apa obat memang sudah diperlukan. Bila suatu saat tensi meninggi, ada sistem tubuh yang mengatur untuk menurunkannya. Sebaliknya, kalau tensi menurun, tubuh akan menaikkannya. Biarkan dulu mekanisme itu berjalan tanpa perlu diintervensi dengan obat. Kelewat cepat memberi obat, berarti mengacaukan mekanisme otomatisasi tubuh melakukan keseimbangan tekanan darah (homeostasis). Bisa jadi, malah bisa anjlok akibatnya. Kejadian anjloknya tensi darah akibat kelewat cepat atau mungkin kelewat tinggi pemberian dosis obat darah tinggi, bukan peristiwa yang jarang. Acap oleh ulah pasien sendiri yang memutuskan minum obat begitu merasa tekanan darah yang diukurnya sendiri di rumah meningkat, bisa-bisa fatal akibatnya. Baca juga : Tak Semua Obat Medis Cocok Untuk Hipertensi Tekanan darah yang mendadak anjlok buruk akibatnya pada otak dan jantung, selain ginjal. Pasokan darah ke organ-organ tubuh penting itu mendadak berkurang. Kita tahu otak paling rentan terhadap kekurangan pasokan oksigen yang dibawa oleh darah. Kasus stroke berisiko terjadi kalau tensi darah mendadak anjlok. Stroke bisa terjadi lantaran tensi darah kelewat tinggi, bisa juga bila kelewat rendah.
29-03-2015 11:38
Obat herbal untuk kolesterol tinggi saat ini memang sangat dibutuhkan, karena ada banyak sekali orang yang menderita kolesterol tinggi. Banyaknya makanan yang mengandung kolesterol tinggi membuat banyak orang mudah terkena penyakit ini. Selain itu dengan gaya hidup dan juga pola hidup yang tidak stabil membuat seseorang semakin mudah terkena kolesterol.   Baca juga : Penyebab dan Pengobatan Kolesterol dengan Cara Alami Apa itu kolesterol Kolesterol adalah penyakit yang menyerang bagian arteri atau pembuluh darah, dimana arteri akan menyempit dan aliran darah tidak akan berjalan dengan baik. Pada dasarnya kolesterol dibutuhkan oleh tubuh, salah satu fungsi dari kolesterol adalan membuat dinding sel. Kolesterol sendiri diproduksi oleh tubuh sebanyak 80% sedangkan 20% didapat dari berbagai macam makanan. Kolesterol sendiri dibagi menjadi 2  jenis, yaitu ; Kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein) Kolesterol ini sering kita sebut dengan kolesterol jahat. Kolesterol ini yang akan menumpuk pada pembuluh darah atau arteri. Kolesterol ini yang akan menyebabkan banyak masalah. Kolesterol HDL (High Density Lipoprotein) Kolesterol ini yang sering kita sebut dengan kolesterol baik, dimana kolesterol ini akan mengikis kolesterol jahat yang menempel pada dinding arteri. Selain itu kolesterol ini juga akan melindungi dinding arteri dari plak-plak yang akan mengikis dinding arteri. Baca juga : Teh Hijau, Obat Pelangsing Sehat dan Alami  Obat herbal utnuk megatasi kolesterol Untuk mengatasi kolesterol tidak hanya dari makanan saja, pola hidup perlu kita ubah agar tubuh semakin sehat. Ada baiknya juga ditambah dengan beberapa obat-obatan untuk mengatasi kolesterol. Saat ini ada banyak sekali Obat herbal untuk kolesterol tinggi yang ada di pasaran. Obat-obatan ini menggunakan buah-buahan yang memang dipercaya dapat mengatasi kolesterol tinggi dalam tubuh. Mengkosumsi obat herbal seperti ini sebaiknya dilakukan secara rutin, agar kita mendapatkan khasiatnya. Mengkonsumsi  obat herbal tentu saja tidak akan menimbulkan efek samping. Atau kita juga dapat membuat sendiri obat kolesterol yang terbuat dari bahan herbal, seperti jahe, kulit manggis, daun sirsak, mengkudu, kunyit, daun salam, daun binahong, dll. Tanaman tersebut juga harus kita konsumsi setiap hari. Untuk lebih jelas mengenai Obat herbal untuk kolesterol tinggi, sebaiknya kita menghubungi www.kesehatan.tips.  Â