Waktu Posting : 14-08-2014 20:55 | Dibaca : 3589x
Maka dari itu cegahlah sebelum terlambat! Salah satunya dengan rajin mengkonsumsi minuman kesehatan yang mengandung antioksidan dan vitamin B kompleks. Anda bisa memilih diantara minuman ini Ultra Mangotseen, DragonNoni, atau Ultra Noni. Ketiga minuman tersebut terbuat dari bahan-bahan herbal alami yang berkhasiat dan mempunyai fungsi sebagai obat.
15-06-2014 00:43
Jantung adalah satu diantara organ vital untuk manusia. Ketidakpahaman manusia perihal organ itu bikin banyak mitos beredar di orang-orang. Yang kritis, tak sedikit yang memercayai, walaupun lalu dapat dibuktikan salah. Serta bila salah, nyawa taruhannya. Mitos 1 : orang muda tak terkena serangan jantung Kata siapa? Mitos ini benar-benar lama beredar di orang-orang, juga barangkali ada banyak yang memercayai. Namun faktanya, sesudah masa 90-an pasien serangan jantung makin muda. Saat ini, terdaftar sejumlah 20 % masalah serangan jantung dibawah umur 40, sejumlah 40% diantara umur 40-45, serta 40% diatas umur 50. Itu penyebab tiap-tiap orang dianjurkan untuk lakukan penelusuran serta pencegahan dari awal, sesudah umur 25. Ada tiga aspek yang menambah resiko terkena penyakit jantung, yakni terlampau banyak konsumsi lemak serta gula, kemalasan fisik, serta dampak radikal bebas. Bila aspek resiko ini dirangkum jadi satu, ujungnya ialah pola hidup! Waspada! Baca juga : Waspadai, Kanker Usus Mengincar Anda Mitos 2 : jantung tak butuh beristirahat " Bila jantung beristirahat, mati, dong, orangnya! " Walau tak betul-betul berhenti berdenyut, jantung juga butuh beristirahat. Kapan? Di waktu kita tidur. Pada saat tidur, jantung berkontraksi minimum, yakni seputar 50-60 denyut per menit. Pekerjaan jantung sejatinya benar-benar berat. Setiap saat berdenyut, jantung memompa 70-80 cc darah. Serta dalam satu menit, jantung berdenyut 70-100 kali. Berarti, dalam satu menit jantung bakal memompa 500 cc cairan darah, serta ada 30. 000 cc atau seputar 5. 000-6. 000 liter darah dipompa tiap-tiap hari. Ini penyebab tidur benar-benar utama untuk kesehatan jantung. Mitos 3 : serangan jantung diwariskan? Pada dasarnya, penyakit jantung tak alami penurunan dengan cara genetik. Tetapi, bila keluarga Anda mempunyai kisah serangan jantung yang tinggi, maka itu mempertinggi resiko Anda terkena. Oleh karena itu Anda mesti dapat mengetahui diri serta lingkungan Anda, berhenti merokok, olahraga teratur, melindungi kolesterol, gula, serta berat tubuh, plus periksakan diri Anda dari awal. Baca juga : Tips Mendongkrak Stamina Orang Tua Mitos 4 : dada kiri nyeri = serangan jantung? Belum pasti iya, namun belum pasti juga tak. Bila rasa nyeri jadi lebih kuat saat aktif berkegiatan, serta gejalanya alami penurunan dengan pemberian obat nitrat dibawah lidah, maka itu mengindikasikan sakit jantung. Namun, apabila sakit di dada bisa ditunjuk dengan terang memakai jari -dan bila ditekan jadi nyeri, besar kemungkinan ini sakit otot dada. Di Indonesia, umumnya sinyal serangan jantung yang nampak ialah sakit di ulu hati, kembung serta seperti masuk angin. Tidak sama dengan di AS yang nyeri bermula dari dada, lalu menjalar ke lengan kiri serta leher. Yang menghebohkan, riset di Kampus Airlangga pada 1980-an tunjukkan, saat beberapa orang yang terasa masuk angin di check, sebenarnya 30 % diantara mereka terkena serang jantung koroner. Mitos 5 : dapat mendeteksi serangan jantung Salah besar. Ada argumen kuat kenapa serangan jantung bisa dimaksud 'the silent killer', tidak cuma di Indonesia, tetapi di semua dunia. Faktanya, sejumlah 30 % masalah serangan jantung tak mempunyai tanda-tanda serta selesai dengan kematian. Ini yang dimaksud sudden death. Pemberitahuan untuk pertama serta paling akhir kalinya. Memanglah, sebagian serangan jantung, terlebih bila dikarenakan bisul penyumbat pembuluh darah yang besar, menyebabkan tanda-tanda. Namun pecahnya bisul pembuluh darah yang kecil, yang ukurannya kurang dari 50 % penyumbatan, inilah yang mengakibatkan sudden death. Plak-plak kecil inilah yang jahat. Bagaimana tak, ia tak tampak dengan EKG, tak terdeteksi dengan tes treadmill. Ia baru bakal terlihat bila dikerjakan Multislice CT scan. Dari sinilah julukan silent killer berasal.
23-02-2016 06:26
Saat ini masyarakat banyak dikejutkan dengan LGBT, banyak diantaranya yang belum tau dan mengerti dengan apa itu yang dimaksud oleh LGBT sendiri. Bahkan ada pula beberapa diantaranya yang bertanya apakah LGBT itu termasuk dalam jenis penyakit LGBT atau bukan? Untuk menjawab beberapa bentuk pertanyaan tersebut, sebaiknya Anda perhatikan terlebih dahulu uraian penjelasan di bagian bawah ini : Apa itu LGBT? LGBT atau sering pula disebut sebagai GLBT adalah singkatan dari kata Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Istilah ini sebenarnya sudah digunakan sejak tahun 1990 lalu, namun untuk perkembangannya memang baru dikenal oleh masyarakat dalam beberapa waktu terakhir ini. Penggunaan istilah LGBT pada mualnya digunakan untuk mengganti frasa dari Komunitas Gay. Hal ini juga berkaitan dengan penggunaan kata yang lebih mewakili dari kelompok-kelompok orang yang sudah disebutkan pada bagian di atas itu tadi. Baca juga : Waspadai Penyakit di Musim Hujan dengan Cara Pencegahannya Selain itu penggunaan istilah ini juga digunakan untuk menekan bentuk keanekaragaman yang dilihat melalui kacamata seksualitas serta gender. Bahkan peggunaan istilah tersebut juga tidak hanya digunakan untuk menyebutkan pihak homoseksual atau pun biseksual saja. Karena tidak jarang mereka yang heteroseksual pun dimasukkan dalam istilah yang satu ini. Karena itulah penggunaan istilah LGBT sering pula ditambahkan dengan penggunaan huruf Q yang berarti mewakili kata Queer. Sehingga istilah tersebut pun berubah menjadi LGBTQ atau GLBTQ. Penggunaan istilah ini bahkan tercatat sejak tahun 1996 lalu. Pada dasarnya tidak semua orang setuju dengan penggunaan istilah dari LGBT itu sendiri. Karena ada beberapa diantaranya pendapat yang menyatakan bahwa pergerakan transgender serta transeksual tidak sama dengan apa yang disebut sebagai Lesbian, Gay serta Biseksual. Hal ini berkaitan pula dengan gagasan dari penggunaan kata transgender serta transeksual yang memang berkaitan dengan identitas gender, namun justru terlepas dari bentuk orientasi seksual. LGBT Bukanlah penyakit atau pun kelainan Setelah membicarakan mengenai istilah LGBT yang pada dasarnya sudah dikenal sejak jaman dulu. Salah seorang pakar saraf yang bernama dr. Roslan Yusni Hasan, SpBS justru mengungkapkan pendapatnya terkait dengan LGBT tersebut. Menurut beliau LGBT bukanlah jenis penyakit atau bahkan kelainan. Karena itulah tidak diperlukan adanya sistem pengobatan atau bahkan penyembuhan yang perlu dilakukan. Dokter yang akrab dengan panggilan Ryu itu bahkan menyebutkan bahwa LGBT sebagai variasi kehidupan saja. Mengepa demikian? Karena di dalam bagian biologi yang dimiliki oleh para kaum tersebut tidak terdapat hal yang tidak normal. Karena itulah hal ini dianggapnya sebagai bentuk variasi belaka. Beliau bahkan menjelaskan bakat seseorang untuk menjadi seorang lesbian, kemudian gay, biseksual atau bahkan transgender itu sendiri pada dasarnya memang sudah terbentuk ketika dirinya menjadi janin dalam kandungan ibu. Meskipun proses terbentuknya jenis kelamin, kemudian gender serta orientasi seksual adalah proses yang terjadi dengan cara terpisah, namun proses tersebut pada dasarnya memang saling berkaitan antara satu dengan lainnya. Hal inilah yang pada akhirnya menyebabkan ada beberapa orang yang memiliki jenis kelamin laki-laki, namun gendernya justru belum tentu maskulin. Hal ini juga turut memberikan pengaruh pada orientasi seksualnya yang juga belum tentu mengarah pada sosok perempuan. Hal ini juga lebih dijelaskan oleh sosok Ryu melalui penjabarannya yang menyatakan bahwa seseorang yang memiliki kromosom XX belum tentu memiliki jenis kelamin sebagai perempuan, begitupun dengan kromosom XY yang juga belum tentu menjadi sosok laki-laki. fakta biologisnya, banyak sekali variasi genetik, yang pada akhirnya dapat membuat keadaan kromosom menjadi lebih banyak atau malah berkurang. Selain hal tersebut Ryu juga menjelaskan jika kaum LGBT memiliki variasi struktur otak yang berbeda antara satu dengan lainnya, sehingga sulit untuk diubah. Hal ini terkait pula dengan jumlah dari kaum LGBT yang memang jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan masyarakat lainnya. Selain itu Ryu juga menambahkan bahwa seseorang yang termasuk homoseksual pada dasarnya tidak dapat menurunkan sifat asli yang dimilikinya. Hal ini jelas berbeda dengan mereka yang heteroseksual yang mampu memiliki keturunan. Karena itulah pada akhirnya menurut Ryu semua itu kembali pada masing-masing pribadi yang memilikinya, dan bentuk kenyamanan yang dirasakan oleh seseorang. Dengan kata lain ketika seseorang menyukai permainan drum dan memiliki bakat dalam hal tersebut, kemudia ia memilih drum itu tadi dibandingkan dengan gitar, maka hal tersebut tentu saja diperbolehkan. LGBT sebagai bentuk penyakit kejiwaan yang menular Berbeda halnya dengan bentuk pendapat yang disebutkan pada bagian di atas tadi. untuk pendapat yang akan dijelaskan pada bagian di bawah ini justru menyebutkan LGBT sebagai bentuk jenis penyakit. Selain itu penyakit LGBT ini juga dimasukkan dalam kategori penyakit menular. Isu mengenai masalah LGBT saat ini memang tengah menjadi kontroversi di kalangan masyarakat Indonesia. Cukup banyak diantaranya orang yang berpendapat jika LGBT ini bertentangan dengan nilai serta ajaran agama. Namun tidak jarang pula orang yang beranggapan bahwa kaum LGBT berhak untuk menyuarakan keadaannya sehingga ia tidak dikucilkan dari masyarakat di lingkungan sekitarnya. Beberapa orang yang menyatakan pendapatnya bahwa LGBT bukanlah jenis penyakit justru mulai dipatahkan oleh seorang psikiater bernama Dr. Fidiansyah. Menurut beliau mereka yang termasuk dalam kaum yang satu ini justru termasuk orang yang terkena gangguan jiwa. Karena termasuk dalam bentuk penyakit dari gangguan jiwa, maka bentuk penyakit yang satu ini pun dikategorikan sebagai penyakit yang mampu menular pada orang lainnya. Hal tersebut bahkan diterangkan olehnya dalam sebuah buku yang berjudul PedomanPenggolongan Diagnosis dari Gangguan Jiwa. Dalam bukunya tersebut, Fidiansyah menyebutkan jika homoseksual serta biseksual termasuk dalam bentuk gangguan psikologis serta perilaku yang memang berhubungan dengan perkembangan dari orientasi seksual. Dari pernyataannya tersebut Fidiansyah menyatakan bahwa apa yang sudah diungkapkan olehnya atau bahkan psikiater lain yang menyebutkan LGBT sebagai bentuk penyakit menular bukan ingin mendiskriminasi. Menurut beliau hal ini dilakukan justru untuk membantu para kaum tersebut. berkaitan dengan sebutan LGBT sebagai jenis penyakit gangguan jiwa yang menular tentu saja bentuk penularannya pun tidak dilakukan melalui kontak bakteri, virus, atau bahkan mikroba lainnya. Hal ini justru lebih mengarah pada bentuk penularan melalui perubahan sikap perilaku serta bentuk pembiasaan yang dilakukan olehnya. Baca juga : Akibat yang Ditimbulkan dari Pemakaian Celana Ketat bagi Kesehatan Karena itulah LGBT dikatakan dapat menular, yang dilakukan melalui penularan perilaku. Teori penularan yang satu ini diungkapkan melalui bentuk pembiasaan. Seperti halnya ketika seseorang mulai mengikuti satu pola tertentu yang pada akhirnya akan membuat dirinya menjadi satu karekter tersebut. Sehingga pada akhirnya terbentuklah kepribadian, dengan bentuk pembiasaan yang sesuai dengan gangguan dari penyakit jiwa itu tadi. Dari beberapa bentuk pendapat yang sudah dijelaskan pada bagian di atas tadi, Anda dapat melihat bahwa masih banyak pertentangan terkait dengan isu kontroversial dari LGBT itu sendiri. Apakah ia termasuk dalam jenis penyakit yang dikenal dengan sebutan Penyakit LGBT atau bukan? Namun jika hal ini sekiranya merugikan memang lebih baik untuk tidak menjadi bagian di dalamnya.
02-04-2016 11:33
3 Cara Alami Taklukan Tenggorokan Gatal - Tenggorokan gatal bisa berlangsung lantaran beragam sebab, seperti alergi pada cuaca maupun lantaran flu. Beragam bahan alami ataupun obat-obatan bisa Anda cobalah untuk menolong meredakan tenggorokan yang tak nyaman. Kecuali alergi cuaca serta flu, tenggorokan gatal bisa jadi gejala pada keadaan yang lebih serius seperti tonsilitis atau radang amandel, infeksi streptococcus, bahkan juga infeksi virus ebola. Tetapi, janganlah cemas lantaran sakit atau gatal pada tenggorokan biasanya dikarenakan oleh infeksi virus yang umumnya tak membutuhkan perlakuan spesial serta bakal pulih dengan sendirinya dalam 5 hingga 7 hari. Baca juga : Saat Kepala Sering Pusing Atasi dengan 7 Tindakan Ini Bila Anda hendak hindari atau jika telah telanjur alami tenggorokan gatal serta terasa terganggu, kerjakanlah beberapa cara di bawah ini. Melindungi kesehatan tenggorokan dengan merawat suara Tenggorokan gatal dapat berlangsung akibat terus-terusan atau sangat berat dalam memakai nada. Berteriak-teriak, bernyanyi, atau bicara kurun waktu lama serta terus-terusan ialah contoh-contoh penyebab tenggorokan gatal. Coba untuk tak bicara, bernyanyi, maupun berteriak sekurang-kurangnya 1-2 jam /hari. Jika Anda sangat terpaksa mesti tetaplah bernyanyi atau bicara lantaran tuntutan pekerjaan, yakinkan Anda rajin minum air putih. Air putih berperan untuk melubrikasi tenggorokan. Baca juga : Tips Mengurangi Polusi Udara di Dalam Rumah Hentikan rutinitas buruk Rutinitas jelek seperti terus-terusan minum soda, teh, kopi bisa mengakibatkan dehidrasi yang lalu bisa menyebabkan gatal pada tenggorokan. Obat-obatan antidepresan serta beragam tipe narkoba pula bisa mengakibatkan dehidrasi sekaligus iritasi pada tenggorokan. Iritasi serta tenggorokan gatal berisiko dihadapi pula oleh kaum perokok lantaran rokok berbentuk mengeringkan tenggorokan. Selekasnya hentikan semuanya rutinitas jelek ini. Jauhi benda-benda alergen Tenggorokan gatal dapat jadi tandanya kalau Anda alami alergi pada tanaman atau makanan. Bila Anda mempunyai alergi yang seumpamanya bisa bikin tenggorokan gatal, usahakan untuk hindari pemicunya. Langkahnya dengan melindungi makanan atau memeriksakan diri selanjutnya untuk meyakinkan penyebabnya alergi supaya bisa menghindarinya. Waktu alergi datang, Anda bisa konsumsi tablet antihistamin untuk menolong meredakan alergi.